Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Post Terbaru

Umi Adalah Pelita

| Senin, 22 Desember 2014
Baca selengkapnya »
"Ia memang tak terkenal,  tapi Ia adalah pelita bagi anak-anaknya" AtuAlaa.

   
Umi. Hanya tiga huruf, tapi sangat berarti. Kepadanya selalu kucurahkan setiap rinduku, kepadanya selalu kuceritkan langkahku, kepadanya selalu kutangguhkan mimpiku. May be aku tak punya banyak kenangan yang bisa diingat oleh teman-temanku di luar sana, tapi aku selalu dan will always punya banyak kenangan sama Umi. Karena meski pun jauh akan selalu kuukir kenangan dan rindu yang menggebu padanya.

      Lebih dari 2,5 tahun sudah aku jauh darinya. Dari wanita yang sangat kucintai saat ini. Awalnya dulu aku tak yakin bisa hidup tanpanya. Dengan segala kekuranganku, aku juga tak yakin bisa jadi anak mandiri tanpanya, bagaimana aku akan mengatur keuanganku dan bagaimana aku mengatur makanku. Kadang-kadang aku suka berfikir “kalau aku jauh dari umi, apakah umi akan tetap mengingatkanku untuk makan sayur dan buah, apakah ia akan selalu merindukanku, apakah ia akan menyerewetiku untuk tidak meninggalkan shalatku, ” Hal itu selalu terngiang-ngiang dibenakku. Tetapi, setelah aku menjalaninya ternyata aku mampu. Bahkan aku lebih mandiri dari yang kubayangkan, hanya saja sayur dan buah yang masih menjadi musuh terbesarku, ya hanya itu.


      Menjadi anak perantau ternyata bukan hal yang mudah, tak ada yang selalu membangunkanku ketika subuh, tak ada yang mengkhawatirkanku ketika sudah larut aku belum berada di kamarku, tak ada yang sibuk menyuruhku memakan pepaya yang telah tersedia di lemari es. Ya, TIDAK ADA. Aku merasa sangat kehilangan awalnya, semua kebiasaan umi di rumah sangat kurindukan. Tapi lambat laun akhirnya aku bisa (sebenarnya masih proses untuk memaksimalkan “bisa”). 

      Umi, adalah pelita. Umi adalah wanita paling hebat yang ada di dunia. Pengakuan ini kunyatakan bukan karena aku adalah anaknya. Tapi ini adalah penilaianku secara objektif. Melihatnya merawatku, melihat kekhawatirannya padaku ketika aku divonis oleh dokter. Aku yang pada saat itu merasa baik-baik saja, berasa kuat dengan segala kenyataan yang telah ditakdirkan Tuhan untukku. Namun, dari matanya aku dapat melihat sendu yang menggebu dan dadanya yang terasa sesak mengkhawatirkan keadaanku. Yah, disaat itulah aku merasa bahwa ia sangat menyayangiku.

      Aku belajar banyak dari ketangguhannya dalam berbisnis, aku mempelajari hal itu darinya. Hingga beliau menyuruhku untuk kuliah mengambil jurusan yang berhubungan dengan bisnisnya. Aku menolak, ya aku menolak. Karena kutahu itu bukan fashionku, aku bisa karena terbiasa bukan karena aku benar-benar menyukainya,



      Jika aku disuruh menuliskan tentangnya, mungkin tak akan pernah habis hingga waktu berakhir. Itu karena betapa banyak hal yang sudah kulewati bersamanya.

      Umi, pada hari ini izinkan aku mengucapkan rasa rindu yang teramat dalam. Rasa rindu yang setiap hari menggebu. Umi, setiap yang kulakukan adalah demi pencapaian cita-citaku untuk bisa sukses dimatamu. Aku tahu sukses bagimu bukanlah dinilai dari materi yang akan kudapatkan nanti tapi apapun yang kulakukan kuharap engkau mendukungku, karena seberapa sibuknya aku adalah untuk pencapaian mimpiku.

      Umi, selamat hari Ibu, Terima kasih karena sudah menyayangi aku sampai kini genap sudah 20 tahun usiaku. Terima kasih karena sudah mendukung apapun yang aku lakukan, terima kasih karena selalu mengerti kebutuhanku, terima kasih karena sudah menjadi Umi terbaik sepanjang masa, terima kasih karena selalu mengkhawatirkanku, terima kasih karena engkau selalu mengerti mimpiku, terima kasih Umiku sayaaang. 


      Kepada Umi dan Babah hati-hati di perjalanan menuju tanah suci, khusyuklah dalam beribadah, jangan terlalu khawatirkan kami disini karena kami akan baik-baik saja. Doakan Eky supaya bisa meraih mimpi Eky dengan mudah, doakan Eky supaya bisa jadi anak yang soleha, doakan Eky supaya istiqamah dalam menulis. Eky sayang Umi dan Babah.

      Kalau seandainya suatu saat nanti Umi sama Babah baca tulisan ini, Eky cuma mau bilang maaf yang sebesar-besarnya karena sudah menyusahkan Babah sama Umi selama ini, maafkan Eky ya :’) sayang Umi dan Babah selamanya. Semoga kalian baca ini yaaaa, karena untuk menyatakannya langsung Eky merasa tak mampu. I love Mom and Dad .

Happy Mother’s Day. Umi adalah pelita.








By : @AtuAlaa
22 Desember, 00.07 WIB

Umi Adalah Pelita

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Senin, 22 Desember 2014
With 0komentar
Tag :

SERUNYA BELAJAR JURNALISTIK

| Minggu, 21 Desember 2014
Baca selengkapnya »
Oleh : Zakiyah Rizki Sihombing

      Medan, Desember 2014. Betempat di ruang sidang FISIP USU, Ikatan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (IMAJINASI) bekerja sama dengan DAAI TV untuk memberikan materi seputar jurnalistik khusunya kepada mahasiswa/I Ilmu Komunikasi FISIP USU. 

      Acara yang dimulai pada pukul 08.00 pagi itu dipandu oleh Haris Nasution selaku MC kemudian dilanjutkan oleh pemamparan seputar menulis feature jurnalistik oleh Khairiah Lubis yang merupakan bagian dari DAAI TV itu sendiri.

Dalam pemaparannya, Khairiah mengatakan” feature jurnalistik adalah sebuah tulisan yang ditulis secara luwes dan menarik dan tak lekang oleh waktu”. 

      Dalam dunia jurnalistik, diperlukan bakat menulis, baik itu menulis straight news ataupun feature. Mahasiswa/I Ilmu Komunikasi sendiri misalnya, dalam perkuliahan mereka diajarkan segala hal tentang jurnalistik. Namun pengaplikasiannya hampir tak terlihat nyata. Menulis feature diakui memang perlu kesabaran dan ketaletan. Itulah yang menjadi alasan mengapa mahasiswa Ilmu Komunikasi perlu memperlajari ini.



      “Feature jurnalistik itu terbagi dua yaitu News Feature dan Human Interest Feature” tambah Khairiah lagi.

      Setelah belajar menulis feature secara mendalam, peserta disuguhkan oleh panitia seorang pembicara yang kedua yang juga diundang dari DAAI TV. Kali ini peserta ditantang untuk menjadi reporter, kameramen, editor dan penulis skrip yang secara langsung turun ke lapangan dengan peralatan yang telah tersedia. 

      Peserta yang terdiri dari stambuk 2012. 2013 dan 2014 itu terlihat begitu antusias mengikuti acara ini dilihat dari keaktifan bertanya dan hasil berita yang telah mereka hasilkan dari terjun langsung ke lapangan lewat sebuah video yang ditampilkan langsung dilayar monitor infocus. 



Riuh tawa peserta memenuhi ruangan, melihat tayangan video yang mereka hasilkan dalam waktu kurang lebih 45 menit. Ada yang malu-malu, ada yang sudah mahir bahkan ada juga yang hampir mendapat nilai sempurna. 

“Acaranya menarik banget, nambah wawasan dan juga menjadikan aku tambah tertarik dalam dunia jurnalistik” ujar Fathia yang merupakan salah peserta acara tersebut. Acara berakhir pada pukul 14.30, ditutup dengan rasa puas dan ilmu baru oleh para peserta.




By : @AtuAlaa
Medan, 21 Desember 2014 , 23: 04

SERUNYA BELAJAR JURNALISTIK

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Minggu, 21 Desember 2014
With 0komentar
Tag :

IKO, SOSOK YANG WAJIB DICONTOH

|
Baca selengkapnya »
*YANG BERKARYA


Oleh : Zakiyah Rizki Sihombing

      Dewasa ini berprestasi di dunia modeling bukan lah hal yang mudah, selain harus mempunyai tubuh yang ideal seorang model juga harus pandai menjaga kesehatan dan rajin berolahraga. Seperti halnya Eko Ardilla Harahap, pria kelahiran 15 November 1991 yang biasa disapa Iko ini telah aktif di dunia modelling sejak tahun 2010. Memiliki fisik yang ideal adalah impiannya, dilihat dari ketekunannya sehari-hari dalam menjaga makanan, berolahraga serta menerapkan pola hidup sehat. 

      Layaknya model pada umumnya, pria ini memiliki kulit yang putih, hidung yang mancung, tubuh yang tinggi, kemampuan berbahasa inggris yang bisa diacungin jempol dan tentunya sifat ramah yang ia miliki membuat orang betah berkomunikasi dengannya. 

      Pria asal Asahan ini telah meraih berbagai prestasi seperti ; terpilih menjadi “Abang Asahan” tahun 2011, wakil “Duta Wisata” SUMUT 2011, Mr. Celebrity 2012, dan yang paling membanggakan adalah ketika Iko menjadi utusan duta wisata wakil SUMUT IDBUDPARINDO (Ikatan Duta Budaya dan Pariwisata Indonesia) di Twin Plaza Hotel & FX Sudirman kota Jakarta pada tahun 2012 lalu.

      Menjadi seorang model tentunya merupakan prestasi yang sangat membanggakan, terutama bagi dirinya dan kedua orang tuanya. Prestasi tersebut benar-benar ia tekuni sehingga menghantarkannya ke kota Jakarta. Menyandang gelar duta wisata kerap menjadikan pria penyuka travelling ini bertemu orang-orang hebat untuk sekedar berbagi cerita dan pengalamannya dengan mengadakan meet up di salah satu mall di Jakarta.
   “Jadi model itu gak susah kok, yang penting percaya diri dan berani mengexplore apa yang ada di dalam diri kita, dan jangan lupa juga untuk memperhatikan fisik dan kesehatan” jawab Iko ketika ditanya tentang tips berprestasi di dunia modelling.

      Anak pertama dari empat bersaudara ini menjalani hidupnya menjadi anak perantau. Baginya menjadi anak perantau memang bukan hal yang mudah, apalagi di ibukota yang mayoritas penduduknya betawi-sunda, perlu waktu berbulan-bulan untuk menyesuaikan aksen logat Sumatera yang ia bawa. Namun, untungnya ia menemukan komunitas “Anak Medan” disana sehingga ia tak merasa sendiri di kota metropolitan tersebut.

      Setelah menyelesaikan studi d3nya di STMIK AMIK Royal Kisaran, kini Iko menlanjutkan studi S1 di universitas ternama di Jakarta. Ya, President University menjadi pilihannya dengan mengambil jurusan information system. Disela-sela kesibukannya di dunia perkuliahan, ia juga bergabung di perusahaan asing menjadi sales engineering Sandvik Coromant Indonesia Swedia di Jakarta untuk memenuhi kebutuhannya mengingat biaya kehidupan di Ibu kota yang tak terbilang nilainya.


      Dua tahun sudah ia menetap di Jakarta, berniat untuk pulang ke kampung halaman setelah usainya pendidikan S1nya di President University kembali ia urungkan mengingat tekadnya yang ingin menyambung S2 di Universitas Indonesia. Baginya menuntut ilmu adalah segalanya, tetapi juga diperlukan tindakan nyata setelahnya. Sehingga kelak ia berniat setelah menamatkan studi S2 nya ia ingin kembali ke kampung untuk menjadi entrepreneur yang hampir 50% telah ia persiapkan. “Aku banyak belajar dari cara kerja yang cekatan dan transfaransi disini, semoga aku bisa meralisasikannya di Asahan nanti” ujarnya.

      Prestasi yang telah Iko raih sampai sekarang tidak terlepas dari dukungan dan doa dari orang tuanya, kedua orang tua yang paling berjasa di hidupnya “OMG kalau bahas orang tua aku sensitive banget. Apalagi kalau cerita tentang mama, mama itu wanita paling hebat, mama itu segalanya bagiku, mama selalu support dan nasihatin aku, ” ujar Iko. 

     Menjadi orang hebat memang tidak mudah. “Andai manusia memiliki 10 sifat, maka 9 diantaranya adalah sifat buruk dan 1 sifat yang baik. Semua tergantung bagaimana manusia itu memanfaatkan sifat baik yang ada didirinya untuk menjadi orang hebat” Iko menambahkan.



      Ketika reporter tamu Harian Medan Bisnis hendak menyudahi wawancara, kami mengajukan pertanyaan apa arti hari ibu bagi seorang Iko dan kejutan apa yang biasa ia berikan kepada ibu di hari tersebut “Hari ibu itu adalah hari dimana mama gak boleh kerja seharian hehehe” jawabnya. “ Mama harus sangat diistimewakan dihari itu, biasanya aku selalu kasi kejutan dihari itu, tapi semenjak tinggal di Jakarta, adik-adikku yang menggantikanku. Seperti tahun lalu, aku mengirimkan presto dari Jakarta buat mama di kampung, duh aku jadi benar-benar kangen Mama” tambahnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca sembari tersenyum bahagia.


Read more :




By : Zakiyah Rizki Sihombing (@AtuAlaa)
Medan, 21 Desember 2014 : 22:41 WIB




IKO, SOSOK YANG WAJIB DICONTOH

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar
Tag :

RESOLUSI 2015

| Jumat, 19 Desember 2014
Baca selengkapnya »
"Karena kupunya Tuhan tempat bermohon" AtuAlaa

      Alhamdulillahirabbilalamin, terima kasih tak terhingga kepada Allah SWT yang telah memberikan umur yang panjang. Sebentar lagi tahun 2014 berakhir, itu artinya saatnya untuk intropeksi diri. Apa yang belum terlaksanakan, dan apa yang sudah. Begitu banyak kenangan tahun ini, dari yang paling membahagiakan sampai tangis yang menjadi-jadi. Walaupun begitu, sudah wajib bagiku untuk terus bersyukur tentang apa yang Allah sudah berikan karena aku percaya apa yang terjadi itulah yang terbaik.

      Tahun ini, beberapa resolusi telah tercentang rapi. Meskipun ada beberapa yang masih dalam proses pengerjaan, salah satunya go international yang masih dalam khalayalan. Oke, aku move on hahaha. Lupain yang lalu, saatnya melangkah ke depan, raih yang belum tercapai dan lawan segala hambatan yang menantang. Aku bisa. 



      Yaaah, ini dia resolusi tahun 2015. Semoga saja bisa tercentang rapi dan dimudahkan oleh Allah, Aamiin..

1. Pengen dapat beasiswa (soalnya udah beberapa kali gagal terus hihi)

2. Pengen ke luar negeri (setidaknya, Thailand or Singapore pun jadilah)

3. Pengen magang di radio Kisaran

4. Semoga jadi PKL di Jakarta (Udah dapat restu dari umi dan babe soalnya)

5. Berharap banget bisa ketemu kamu (someone special, cepat balik ya)

6. Ibadah (Shalat, puasa, sedekah) gak boleh dilalaikan, semoga saja bisa dikerjakan dengan maksimal

7. Babah sama umi selalu diberi kesehatan, kemurahan rezeki, umur yang panjang dan kebahagiaan.

8. Bisa jadi kebanggaan Umi sama Babah (selama ini ngerasa nyusahin terus, hiks)

9. Tahun 2015 harus udah seminar proposal sambil nyusun skripsi

10. Yang ini lagi proses, semoga terbit (Punya buku duet kumpulan puisi) sama Umi Weeya

11. Dapat IP 4,00




12. Pake (banget) , pengen bisa nge-MC

13. Dibolehin umi sama babah bawa sepeda motor ke Medan

14. Semoga Nanda bisa masuk PTN, Kak Afni wisuda bulan 5, Eza masuk Pesantren, Dini jadi anak yang rajin dan pintar.

15. Umroh bareng keluarga :’))

16. Mudah-mudahan mood nulis bagus terus dan bisa nulis di berbagai media terus diterbitin tulisannya hihihi

17. Pengen konsisten nulis novel teenlit dan novel anak

18. Semoga usaha Umi (Zakiyah Fashion) terus berkembang dan maju

19. Segala sifat jelek harus diubah


20. Berharap bisa langsing hahaha

21. Semoga bisa sehat selalu, gak mau sakit lagi :’))

22. Jadi anak mandiri, semoga bisa dapat kerjaan yang baik dan menyenangkan

23. Pengennya selalu diberikan Allah rezeki yang halalan thoyyiban

24. Bisa berbahasa asing dengan fasih, oh iya bahasa daerah (batak) juga deh, malu sama marga hehehe

25. Dapat nilai advel “A” (ini maksa kali kayaknya wkwk)

26. Belajar masak, lagi, lagi dan lagi (karena katanya, wanita itu harus bisa masak)

27. Istiqamah nge-Blog, semoga pengunjung terus bertambah dan menginspirasi banyak orang

28. Diberikan kawan yang setia kawan



Yaap, mungkin ini dulu yang diposting. Tapi sebenernya, dari hati yang terdalam (Ceile) masih banyak banget yang pengen diraih tahun ini. Semoga saja resolusi diatas bisa terkabul, Aamiin ya Allah. Yang baca ini, ayo Aamiin kan juga, dibantu ya dibantu, dibantu doa hehehe. Aamiin.



Jum’at 19 Desember 2014 ;)
06.30 WIB
Zakiyah Rizki Sihombing (AtuAlaa)



RESOLUSI 2015

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Jumat, 19 Desember 2014
With 1 komentar:
Tag :

Kau Untukku

| Selasa, 16 Desember 2014
Baca selengkapnya »
Oleh : Zakiyah Rizki Sihombing


      Tut…tut..tut….kereta api mulai melaju menuju kota dimana aku pernah menghabiskan waktuku dulu. Pulang kampung adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh anak kos sepertiku, belum lagi membayangkan makanan lezat yang dimasak mama di rumah, betapa nikmatnya itu. Jarak kos dengan kampung halamanku hanya lima jam, tapi bukan berarti aku bisa pulang seminggu sekali, padatnya jadwal kuliah dan kegiatan organisasi menjadi penghambat besar untuk kembali. Ah, aku jadi teringat “Siapa yang akan menjemputku di stasiun?”. Kuraih handphoneku yang sedari tadi mengendap dalam tas lalu mulai mengetik satu kalimat yang akan kukuirim ke papa.

“Papa hari ini sibuk? Kalau ada waktu jeput Thauma di stasiun ya” 

“Papa sibuk nak, tapi papa udah suruh Eza buat jemput kamu, jam setengah 5 kan?”

Ah lagi-lagi Papa seperti ini, bisa gak sih sekali aja bukan Eza yang jemput. Menyebalkan.

***

      Aku masih mengatup mulutku, sudah hampir dari lima belas menit yang lalu aku memilih diam, meskipun Eza telah melemparkan beberapa pertanyaan selama di perjalanan menuju rumah. Aku menolehkan kepala pada rumput-rumput hijau di pinggir jalan, sambil sesekali mengeraskan suara music di mobil apabila Eza mencoba menurunkan volume suaranya karena ingin berbicara padaku.

“Kamu seperti anak-anak ya” gerutunya, sambil sedikit tertawa

Aku tak menoleh, pura-pura tak mendengar. Ini perjalanan pulang kampung yang paling menyebalkan selama lima tahun terakhir. 

      Sudah hampir sampai depan rumah, aku mulai bergegas menyusun ponsel dan tab ku.Tiba-tiba mobil yang kunaiki terhenti, Eza menghentikannya. Aku menatapnya, tetapi ia justru menatap balik padaku. Aku malah memalingkan wajah karena tak mampu melihat matanya. Mata yang justru sangat mirip dengan Enza, mantan kekasihku.

“Thauma, menikahlah denganku”

      Jantungku berdetak tak karuan, suara itu, permintaan itu masih sama seperti tiga tahun lalu. Rasanya pengen bilang “berhenti Eza” tapi itu terasa gak mungkin untuk dikatakan.

      Aku mencoba untuk membuka pintu mobil, padahal itu belum sampai rumah. Tetapi tangan Eza menghentikanku.

“Kalau gak mau jawab enggak apa-apa, tapi biar kuantar kamu sampai rumah. Jangan turun disini” katanya pelan.

      Menurutku bertemu dengannya sama saja seperti bertemu dengan debt collector, selalu saja ada yang ingin dipinta, sudah tau aku gak punya apa-apa. Ini kedua kalinya ia memintaku untuk menikah dengannya, sudah dua kali pula aku memilih diam. Dan sepertinya ia belum mau menyerah.

***

      Suasana rumah beberapa hari terakhir jadi dingin, semenjak aku enggak mengusik pernyataan papa waktu itu. Pernyataan yang sulit untuk diterima apalagi dilakukan, mungkin menghela nafas bukanlah sebuah jawaban buat papa, tapi setidaknya papa bisa ngerti kalau anaknya belum bisa move on.

“Nak, apalagi yang kamu tunggu, pendidikan udah bagus, kerjaan juga, apalagi yang kamu cari? Eza itu anak baik-baik, kerja selalu proffesional, dan dia juga religious. Masih kurang juga? Ayolah Nak.

      Andai papa tahu, Enza masih ada disini Pa, di hati Thauma. Dia segalanya dan sulit untuk digantikan. Rasanya ingin aku berkata seperti itu di hadapan Papa tapi itu semua terasa tidak mungkin.

      Pernyataan papa beberapa waktu lalu memaksa memori otakku untuk menyusun kembali semua kejadian tiga tahun lalu, saat Eza melamarku. Eza? Tidak..bukan Eza. Aku baru ingat, itu Enza bukan Eza. Bulir-bulir air mata mulai jatuh membasahi pipiku, mengingat tentang Enza yang telah dahulu pergi karena paru-para basah yang diidapnya. Enza sangat mirip dengan Eza, ya mereka adalah saudara kembar. Mungkin itulah alasan mengapa aku tak mau memilih Eza meskipun papa yang memintanya, Karena bagiku, memilih Eza sama saja aku hidup dalam bayang-bayang Enza dan mungkin aku tak akan pernah bisa melupakannya seumur hidupku.

***

      Aku menghela nafas panjang ketika papa menyuruhku menjadi MC di sebuah acara “Malam Keakraban” di kantornya, bukan aku tak mau. Tapi karena aku tak mau ketemu Eza dalam waktu yang lama. Seandainya Eza tidak bekerja di kantor yang sama dengan papa mungkin aku akan melakukannya dengan senang hati.

      Acaranya selesai, dan aku dapat bernafas lega. Kusandarkan pundakku pada sebuah sofa berukuran minimalis sambil menghidupkan lagu Mine-Petra Sihombing setelah menyeruput coffe latte kesukaanku.

“Mau coklat?” sebuah suara terdengar berada di sebelahku, ternyata Eza

“Tidak” jawabku singkat

“Mau apel?”

“Tidak” jawabku lagi

“Mau menikah denganku?” tanyanya santai

“Ti…..” belum selesai menyelesaikan kalimat, aku diam.Memutuskan untuk tidak menjawab. Kukeraskan suara music dari handphoneku untuk mencairkan suasana agar aku tak mendengarnya.

Tetapi, ia meraih handphone itu dari tanganku.

“Jawab aku, Thauma”

“Aku tidak bisa” jawabku seraya menenangkan diri, aku harus bisa menolaknya. Bagaimana pun aku mencintai Enza bukan Eza.

“Sampai kapan kau hidup dalam bayang-bayang kakakku?”

“Eza, aku tak mau kau memintaku karena kau merasa harus memenuhi janji kakakmu untuk menjagaku, aku tak mau hidup dalam bayang kakakmu, aku terus merasa bersalah kalau pada akhirnya harus memilihmu bukan dia” aku menjelaskan

“Ingin dengar sesuatu?”

“apa?”

“Jauh sebelum Enza menyukaimu apalagi melamarmu, aku telah lebih dahulu mencintaimu. Saat pertama kali Papamu memintaku untuk mengantarmu ke stasiun kereta api, disaat itulah aku merasa bahwa Tuhan telah menitipkan bidadari untukku. Tetapi, aku tak bisa apa-apa ketika kutahu bahwa kakakku menyukaimu, aku membiarkannya mengambil seluruh yang ingin aku miliki, termasuk kamu”

“Kenapa?” tanyaku pura-pura tidak penasaran

“Karena sakitnya, aku tahu bahwa egois bukan sebuah pilihan pada saat itu, Disaat aku tahu bahwa kakakku tidak akan bertahan hidup lebih lama. Aku menyayangi kakakku sehingga kubiarkan pula ia menyayangi orang yang ingin aku miliki. Semenjak ia pergi, aku merasa kaulah orang yang paling terpukul selain aku, disaat itulah aku berjanji bahwa aku akan membahagiakanmu” jelasnya

Jantungku berdebar, tanganku dingin. Semulia itukah dia? Merelakanku untuk kakaknya? 

“Aku juga telah memintamu lewat papamu, aku meminta anak gadis kesayangannya untuk kupersunting menjadi isteriku, setelah beberapa tahun mengambil hati papamu akhirnya papamu menyetujuinya. Tetapi mungkin aku salah langkah, harusnya aku tanya padamu dulu. Ketika papamu telah menyetujuinya, kau malah menolakku” Eza tersenyum

Memintaku lewat papa, senekat itu kah dia? Pantesan saja papa selalu mengandalkan Eza untuk menjeputku di statsiun, dasar papa.

“Tapi aku tak bisa apa-apa kalau pada akhirnya kau akan menolakku”

“Bukan” jawabku reflex

“Itu artinya, kau menerimaku? Hihihihi” tawanya membuatku tersenyum

Aku diam dan menundukkan kepalaku, lalu meraih handphoneku dari tangannya dan mulai mengeraskan lagi suara music dihandphoneku.

“Mungkin aku harus menunggu sedikit lebih lama lagi” katanya sambil meraih tanganku

Aku tersenyum.”Ya mungkin” jawabku di dalam hati.


Terbit di majalah KUMIS (PERHUMAS MUDA USU) edisi pertama :')




Medan, 14 Oktober 2014.

Kau Untukku

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Selasa, 16 Desember 2014
With 0komentar

Jumawa dan Pemilik Cinta

|
Baca selengkapnya »
*Puisi Narasi

Zakiyah Rizki Sihombing


Gundah yang lalu, kubiarkan ia lepas melayangkan gulana yang mendidih, menyeruak noktah berlumur dosa yang jumawa. Adakah maaf beribu ampun, olehmu sang pendidik diri? biar melupa sekejapku tapi engkau merembih pilu.

Aku masih saja menderak-derak diri, tersadarkan betapa jahannamnya si pemilik tulisan ini. Padahal tahukah kau, semua yang tercurah lewat tanganku adalah tentangmu, tentang kekagumanku atasmu. Wahai kedua insan pemilik cinta, sudikah tanganmu menghibah maaf atasku si jumawa diri ini?

Biarku menderu sampai nanar berkelubung beku. Masih tertera jelas di toko buku, hasil karya si jumawa diri yang melupa akan cinta. Suara yang berlapuk-lapuk ketika nama dipanggil haru, tapi kulupa menadakan nama sang pemilik cinta.

Tatkala begini, kusaksikan rindu yang menggebu dari dua pasang mata terlihat sendu. Begitu pun denganku, memohon ampun atas dosa yang berlipat-lipat. Nyatanya mulut merapat. Menimang malu yang bangsat.

Si Jumawa lupa. Ada Papa dan Mama. Penyemangat diri sosok inspirasi tempat mengabdi. Kepada kedua insan pemilik cinta, maafkan si jumawa anak durhaka.

Jumawa dan Pemilik Cinta

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar
Tag :

KENALI PENGARUH POSITIF BERORGANIASI SEJAK DINI

|
Baca selengkapnya »
Zakiyah Rizki Sihombing

      Sebagai mahasisiwa di sebuah universitas tugas utama kita adalah belajar, belajar dan belajar. Padatnya perkuliahan terkadang banyak menyita waktu kita sebagai mahasiswa. Namun, disamping itu semua perlukah berorganisasi?. Ya, jawabannya adalah perlu. Seorang mahasiswa akan mendapat nilai lebih apabila ia tidak hanya aktif mengejar nilai akdemis saja tetapi juga berorganisasi. Perlu diketahui bahwasanya, seseorang kuliah untuk belajar kemudian tamat dan bekerja. Untuk bersaing di dunia kerja kelak, bukan hanya kemampuan akademis yang dipertimbangkan tetapi juga soft skill. 

      Nah, pertanyaannya adalah dari mana soft skill itu didapatkan kalau bukan dari organisasi. Dengan berorganisasi seorang mahasiswa akan mendapatnya pelajaran yang sangat berharga untuk kemudian diaplikasikan dalam dunia kerja. Organisasi akan membiasakan kita bekerja dalam tim, memperluas wawasan berfikir, memiliki jiwa kepemimpinan dan menjadikan kita pribadi yang pandai memenej waktu. 



      Kenyataannya, memang terkadang sulit bagi seseorang yang tidak ahli membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Dari sinilah, kedisiplinan seseorang dimulai, bagaimana caranya membagi waktunya, melihat ke-urgentan sebuah aktivitas , dan melatih diri memenej waktunya sendiri. Intinya pandai-pandailah membagi waktu dan pandai melihat prioritas tertinggi yang harus utama dikerjakan.

     Pengaruh. Sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia organisasi kita harus paham dulu, sebenarnya apa yang kita dapatkan kelak. Bagimana pengaruhnya terhadap kegiatan penting lainnya. Organisasi yang dimaksudkan bukanlah organisasi yang sekedar popularitas apalagi formalitas. Tetapi organisasi yang benar-benar mampu melatih kemampuan serta kepribadian kita menjadi lebih baik sehingga banyak yang melirik. Banyak orang meyakini selain untuk mengajarkan kita bekerja dalam tim ternyata dapat memperluas relasi. Sebab di dalam berorganisasi kita akan menemukan orang-orang dari berbagai penjuru, bukan tidak mungkin kita akan mendapat link info penting dan pekerjaan dari mereka kan?. Membangun relasi dari organiasi diperlukan sejak dini, hal ini cukup membantu dalam hal apapun. Tidak percaya? Sepertinya kamu harus mencoba.

      “Organisasi mengajarkan aku untuk disiplin dan pandai bertanggung jawab” komentar Puput yang merupakan mahasiswa aktif di organisasi kampusnya

      Tidak heran. Mahasiswa yang berprestasi adalah mahasiswa yang berorganisasi. Mahasiswa yang berorganisasi sudah pasti adalah mahasiswa yang berprestasi. Persaingan dunia yang kian ketat membuat kita harus kuat. Bukan hanya duduk, diam tapi harus berbuat.

      Orang India yang bijak pernah mengatakan “Ciri-ciri orang miskin di kemudian hari adalah orang yang banyak tidur, menunda pekerjaan dan tidak berbuat.” Berbuat yang dimaksudkan adalah aktif berorganisasi serta melakukan hal-hal bermanfaat yang berguna bagi orang lain.

      Bagaimana dengan sobat belia? Kalian pasti juga berorganisasikan?. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kalau tidak bisa mari belajar, kalau tidak berani mari mencoba.

KENALI PENGARUH POSITIF BERORGANIASI SEJAK DINI

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar
Tag :

KAMPANYE HIV AIDS, JAUHI PENYAKITNYA BUKAN PENDERITANYA

|
Baca selengkapnya »

Zakiyah Rizki Sihombing


“Jangan jauhi penderitanya, tapi jauhi penyakitnya.” Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk seluruh masyarakat Indonesia agar para penderita HIV AIDS tidak merasa terdiskriminatif.

       Senin, 01 Desember 2014. Dalam memperingati hari HIV dan AIDS (Human Immuno Defeciency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome ) sedunia, volunteer unit SaHIVa Universitas Sumatera Utara bersama dengan siswa/I SMA kota Medan dan beberapa perwakilan dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) USU menggelar kampanye dengan tema “Cegah dan Lindungi Diri, Keluarga, Masyarakat dari HIV dan AIDS dalam rangka Perlindungan HAM.” 

     Seperti tahun-tahun sebelumnya, unit SaHIVa selalu melakukan kegiatan atau acara untuk memperingati hari HIV AIDS ini dengan tujuan agar masyarakat Indonesia tidak memandang sebelah mata para penderita HIV AIDS, karena sesungguhnya mereka hanyalah manusia normal seperti kita, hanya saja Tuhan memberinya cobaan yang tidak Tuhan berikan kepada kita. Selain itu juga bertujuan untuk mensosialisasikan bahaya virus HIV AIDS kepada masyarakat khususnya kota Medan.

      Kampanye tersebut berlangsung dari pukul 13.00 hingga dengan 16.00. Diwarnai dengan dresscode merah-hitam para volunteer melakukan kampanye yang berupa informasi mengenai HIV AIDS, cara penularan dan pencegahan di beberapa titik di lingkungan kampus USU, Dimulai dari sekretariatan unit SaHIVa menuju Fakultas Hukum, sumber, FIB, Pintu 1 lalu berakhir di depan biro rektor USU.

     Di depan kantor biro rektor USU , setiap peserta kampanye memakai pita berwarna merah yang diletakkan pada lengan bagian kanan sebagai simbol peduli bahaya virus HIV AIDS dan dipersilahkan untuk menandatangani baliho serta memberikan pesan untuk disampaikan kepada para penderita HIV yang ada di kota Medan.


      Haris Wijaya, S.Sos., M.Comm selaku Staf Rektor USU mengatakan “Dulu saya juga volunteer HIV AIDS dan saya tahu betul bagaimana penderita HIV AIDS tersebut maka oleh sebab itu jangan beri selamat kepada penderita HIV AIDS tapi kasi semangat.”

      Penyakit HIVAIDS yang bisa tertular lewat air liur, berhubungan intim, pemakaian narkoba dan transfusi darah ini ternyata telah memakan banyak korban. Di kota Medan sendiri terdapat ratusan penderita. Obat penyembuhan yang tidak ditemukan membuat penderita semakin sulit untuk bertahan, mereka hanya mampu mengandalkan obat penekanan virusnya saja sebagai alat melambatkan jalannya virus tersebut.

      Kemeriahan kampanye HIV AIDS itu juga tidak lain berkat kerja keras para panitia penyelenggara. Dalam wawancara singkat, Sausan selaku bagian dari kepanitian acara ini mengatakan “Acara seperti ini sebenarnya kami lakukan setiap tahun, tapi dengan cara yang berbeda-beda. Gunanya agar kita semua tidak menjauhi para penderita HIV AIDS karena mereka bukan untuk dijauhi tapi dilindungi.”

      Serangkaian kampanye tersebut diakhiri oleh pembacaan puisi dari dua orang volunteer unit SaHIVa dan ditutup dengan tepuk tangan yang meriah.


KAMPANYE HIV AIDS, JAUHI PENYAKITNYA BUKAN PENDERITANYA

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar
Tag :

Special for Uut

| Minggu, 14 Desember 2014
Baca selengkapnya »
Karena semua orang akan merasakannya, maka menangislah...

Di tengah kesibukan MPK, suara tangis itu menggelegar. Tangis yang tumpah atas dua kata bernama “patah hati.” Semua orang pada masanya akan merasakan, berani untuk bersama artinya berani pula untuk berpisah. Bukan hanya status pacaran, orang menikah pun juga akan merasakan hal ini.

Untuk Uut yang sedang dibalut duka, bersabarlah. Karena kesabaran adalah obat terbaik dari segala kesulitan. Percayakan pada diri sendiri kalau dia bukanlah titipan terbaik dari Allah buat Uut. Kakak ingat sama suatu pepatah yang mengatakan “Allah mematahkan hatimu karena dia tahu kau kuat menerimanya,” 



Kalau dia memang yang terbaik, dia pasti kembali pada suatu saat nanti dengan pribadi yang lebih baik. Tapi jika memang bukan maka tugas Uut adalah melupakannya. Enggak ada yang perlu disesali, semuanya akan baik-baik saja kok Ut, percayalah. Tuhan bakal ganti sosok yang jauh lebih baik dari dia untuk Uut nanti.

Lupakan semua kenangan tentangnya, mungkin dengan begitu akan lebih baik. Kakak tahu Uut udah berusaha jadi yang terbaik buat dia, tapi  mungkin dia adalah orang yang salah. Kakak juga tahu Uut sangat menyayanginya tapi kenyataannya lihatlah, dia mungkin memang orang salah. 

Menangislah seolah itu memang harus ditumpahkan, menangislah kalau itu membuat lega. Kakak tahu karena kakak juga merasakannya. Tapi ingatlah, di masa depan ada seseorang yang akan membahagiakan Uut. Let’s move on hon... 

“Untuk kebaikanmu, Tuhan mempertemukanmu dengan orang yang salah sebelum memperkenalkanmu kepada orang yang tepat” Mario Teguh.

Special for Uut

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Minggu, 14 Desember 2014
With 2komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲