Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Post Terbaru

JANGAN KE SIBAYAK

| Kamis, 23 April 2015
Baca selengkapnya »
"Naik-naik ke puncak gunung ,,,tinggi-tinggi sekali"

ingat :JANGAN KE SIBAYAK, NANTI KAMU KETAGIHAN !!!!


Foto ini diabadikan oleh kalit kece PIJAR, kereeen beud




Naik gunung. Yah Pijar sudah merencanakan naik gunung dari beberapa tahun lalu tapi selalu saja gagal,gagal dan gagal dan pada akhirnya selalu pakai plan B (manggang-manggang). Manggang apa? Yang pasti bukan manggang sampah lah.

Tapi kali ini, dengan diketuai oleh Alfi dkk, naik gunung itu terwujudkan, yeay. Kalau aku sendiri gak pernah sih ngebayangi gimana asyiknya naik gunung, gimana pengennya naik gunung. Ya biasa aja, diajak ya….ayoooook. Tapi awalnya sih aku mikir, apa kuat punggung ini, soalnya baru rontgen kemarin dan sakitnya masih belum pulih. Dan juga kepikiran sama kaki yang baru operasi, takutnya disana malah nyusahin orang.

Tepat di hari H, tanggal 18 April 2015. Aku malah uring-uringan antara ikut dan tidak. Ngadu ke Ummi dan Baba, tapi mereka hanya pesan “Kalau mau pergi ya sudah, asalkan ingat sama punggung dan kaki, jangan nyusahin orang disana” , ya sudah dapat izin. Tapi kok jadi malesan…!!!! 

Kemalesan itu dimulai perkara handphone yang pagi-pagi udah manja pengen diservice, waktu mau dipake eh gak bisa connect ke internet. Kalau dikira paket habis, masa iya? Perasaan baru ngisi tanggal 13 kemarin. Tetiba di tathering sama punya temen, eh dia bisa. Mulai deh mikir suudzon “dasar sial nih paket baru diisi udah habis “ , jadilah,,mau gak mau aku isi paket lagi (dalam hati mikir, yaampun uang tinggal segini ckckk) . Udah beli paket, teteeeeeup gak bisa, dan kegalauan itu dimulaaaai.
Mau gak mau gerak juga ke tempat service sm***f*** nya, si abang-abang yang ngelayani bilang “mbak, handphonenya ditinggal ya, seminggu lagi siap.” Apaaaa? Aku mau pigi Bang, acemnya abang ni (mulai keluar bataknya, tapi yang tadi ngomong di dalam hati doang kok). “Kalau gitu senin aja ya Bang saya antar, soalnya saya mau pergi”, gak lama si abang pun berpikir sambil menghayati mukaku yang tembem kali yaaak haghaghag “Oh gitu, yaudah tunggu sebentar ya tapi kalau datanya hilang gak apa kan Mbak?” . Aku segera mengiyakan, setelah itu aku tersadar, apaa? Hilang? Yaaaaah, jadi ngedumel dalam hati “terus percakapan dengan doi gimana, aku kan suka lupa” (lebay ko ki, lebay).

Loh, tadi kan mau cerita naik gunung, kok malah cerita itu sih aghhh.

Oke, singkat cerita. Sampailah kami di terminal bus yang menuju kota Berastagi. Beberapa lama menunggu, bus yang datang penuh semua. Alhasil kami pisah bus, sebagian di bus ini, yang itu dan yang lainnya lagi.

Di perjalanan, aku merasa jadi tambah tua, sebab kebetulan aku pergi sama rombongan junior yang unyu-unyu (huek). Merasa males ngomong, akhirnya aku ngeliatin jendela (jadi pakai gaya foto alay-alay merenung kayak di tv-tv gitu hahaha), tiba-tiba keinget doi, apa? Doi? Siapa Zek? Sok punya doi ko yaah…btw, dia kemana ya, lagi apa, sama siapa, kaaaan mulai lagi alaynya -_-


Sampailah di persimpangan (Ntah apa nama simpangnya, yang pasti ada tugu dan SPBUnya) kami memutuskan naiki angkot untuk mendekati persimpangan jalan pendakian. Jalan malam yang kami lalui sedikit menakutkan sebab gelapnya mencekam dan tiba-tiba angkot yang kami tumpangi mogok beberapa kali akibat tak kuat menahan berat. Beberapa di antara kami bergantian untuk turun, mendorong angkot. Kakiku jelas mulai kelelahan, sebab harus menjalani tanjakan yang lumayan jauh, sementara selama ini aku termasuk tak pernah berolahraga (ini kebiasaan buruk yang tidak boleh ditiru ya).
Berselang kurang dari satu jam kami sampai di tempat yang dimana kami harus memulai jalan kaki untuk melakukan pendakian. Sebelumnya kami makan untuk mengumpulkan tenaga selama mendaki.

Perjalanan itu dimulai !!!!

Belum lama mendaki, punggungku mulai sakit. Tas dengan beban yang sangat banyak itu menambah ngilu di punggunggku, aku angkat tangan mengaku tak sanggup. Menyerah untuk sementara agar kami beristirahat, tetapi ada teman baru kami (temen diluar rombongan) yang berniat membawakan tasku, padahal aku tahu tasnya juga berat. Dengan berat hati aku memberikannya, seraya berdoa agar dia diberikan kemudahan karena telah menolongku. Terima kasih ya…

Untungnya, tak lama setelah itu aku merasa sedikit bertenaga akibat coklat dari puput yang kumakan, makasih ya Putem ckck. Kemudian karena merasa baikan, aku meminta tasku padanya, tak lupa berterima kasih karena telah menolongku.

Di tengah terjalnya tanjakan, beberapa kelompok juga berlewatan dan selalu mengucap salam ramah kepada kami. Bahkan anehnya, ada yang sanggup mengendarai mobil dan sepeda motor dengan jalan yang seperti itu, aku bahkan tak tau bagaimana nasib kendaraan mereka esok hari. Mau tak mau kami harus meminggir ketika mereka lewat mendahului kami.
Sepanjang perjalanan, aku menggenggam tangan Puput. Menunmpukan kekuatanku pada kaki yang juga sudah mulai melemah dan tangan Puput sebagai pertolongan agar aku tak tertinggal ckckc, lagi-lagi makasih ya Put karena sudah menjadi gandenganku sepanjang perjalanan pergi.

Yang paling kuingat dari perjalanan itu adalah ketika Rere (salah satu anggota magang di PIJAR) yang memiliki tubuh seksi alias gede-gede buncit kelelahan dan beberapa kali harus berhenti karena tak kuat. Kalau kami pada kedinginan, dia malah berkeringat. Sampai-sampai Kak Puput (Pimum Pijar) bilang ke Rere “kalau Rere bisa sampai puncak Sibayak hari ini, Rere pasti lulus juga di PIJAR” sebagai penyemangat dirinya untuk terus menelusuri jalan yang gulita dan penuh tantangan. Akhirnya dia pun semangat kembali, entah karena janji yang diucapkan Kak Puput atau karena alasan lain.


Selamat datang di gunung Sibayak !! Aku melihat baliho tersebut di pinggir jalan, di sekelilingnya terlihat banyak warung, toilet dan beberapa kursi kayu yang tersusun. Orang-orang juga ramai beristirahat, sepeda motor berjejeran. Karena untuk menaki puncak teratas hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. 

Kami berjalan kearah kiri, menaiki anak tangga buatan yang licin. Tak lupa untuk menghidupkan senter karena itu sudah hampir mendekati tengah malam, jam 23-00. Malam semakin gelap, jalanan becek akibat hujan ketika siang sebelumnya lumayan deras. Tak hanya itu, jalanan yang sedikit sempit juga menjadi penghalang buat kami jalan beriringan. 
Ada yang ketika pergi memakai sepatu baru, maka habislah warnanya menjadi kecoklatan, bahkan beceknya tanah yang kami lalui juga masuk ke dalam kaus kaki. Amazing!!!

Sebentar-sebentar kami duduk untuk menghilangkan lelah, duduk dimana? Yah di becek-becek itu lah (kalau bahasa Medannya, “bante situ”). Seraya duduk menunggu pasukannya yang masih tertinggal di belakang, kasiannya ada junior yang ketika itu kakinya kram jadi mau gak mau kami harus menunggu hehehe. Gapapa sih kalau gak gitu mungkin aku gak bakal duduk lama.

Yang paling kami nikmati ketika menunggu adalah kami bisa menikmati langit yang indah dipenuhi bintang, tak perduli betapa lelahnya kaki melangkah menuju puncak gunung, baju, celana, sepatu yang dipenuhi becek-becekan, tapi yang penting kami bisa menikmati indahnya langit malam itu.

Harumnya pegunungan mulai terasa, tapi rasanya tak kunjung sampai meski puncak sudah di depan mata. Tenda-tenda mulai banyak terlihat sudah terpasang di pinggiran kaki gunung, kebanyakan penghuninya seperti sudah tidur. Sementara kami hampir baru mau sampai.

Dinginnya malam itu semakin menjadi ketika kami sampai di atas gunung. Aku yang sudah kelelahan, serta kaki yang naik betis dan punggung yang ngilu memilih untuk rebahan di atas batu-batu yang tajam. Karena mudah sekali ketika itu aku terlelap, sampai-sampai aku lupa bagaimana sakitnya batu menyucuk badanku serta dingin yang semakin menjadi-jadi waktu itu. Maafkan aku temaaaans, karena gak ikut membangun tenda malam itu, sekali lagi maaf.
Tenda minim, jadi di dalam satu tenda ada kira-kira 10 orang. Bagaimana sempitnya? Yah begitulah, yang pasti udah meluruskan badan saja terasa sulit ckck. Untung pertama kalinya pula aku tidur bareng anak-anak PIJAR. Malam yang panjaaaaaang……

Fajar tiba, seluruh crew memutuskan bangkit dari tidur untuk melihat sunrise. Aku pun bergegas dengan jaket tebalku serta sepatuku yang masih dipenuhi lumpur. Tapi setiba beberapa detik di luar tenda, kakiku seperti kaku, badanku menggigil seperti tak kuat melangkah. Ingin kulanjutkan saja perjalanan pagi itu, karena sejujurnya aku tak pernah melihat sunrise. Tapi apalah daya, sebab jalan menuju puncak paling tinggi masih jauh. Yah, mau gak mau aku kembali ke tenda, biarlah tak melihat sunrise bareng anak PIJAR hari ini, mungkin beberapa tahun yang akan datang aku bisa melihat sunrise bersamamu *eaaak

Cuacanya sekitar gunung semakin terlihat indah ketika matahari mulai menampakkan wujudnya dari ufuk timur. Aku tak berpikir panjang untuk segera mungkin keluar dari tenda, mengabadikan moment indah yang baru pertama kali kusaksikan langsung.

Ketika sepanjang perjalanan semalam, aku selalu meronta di dalam hati “sumpah, aku gak mau lagi naik gunung” gerutuku. Tapi, ketika melihat pemandangan pagi itu, ah rasanya...tak ada yang mengalahkan indahnya.

“Naik gunung itu sama kayak ngedapetin hati kamu, susah di jalan tapi indah diakhir”

“Kata-kata siapa itu? “ komentar seseorang.

“Itu salah, buktinya sekarang aku belum juga ngedapatin hati kamu” 

Hahaha, jawabannya kamu perlu usaha ekstra buat buka mata. Apakah dia sebenarnya pemandangan indah yang harus kamu tempuh, atau kamu salah jalan?

Pokoknya nggak ada yang mengalahkan indahnya, mudah-mudahan aja suatu saat aku dapat menyaksikan pemandangan indah lainnya bersama kamu, calon menantu umikkku *loh

Perjalanan ini begitu mengasyikkan, diiringi tawa kami bersama, diiringi lelah kami bersama, diiringi sayang kami bersama. Seperti lagu Rere..



Satu-satu kami sayang PIJAR

Dua-dua juga sayang PIJAR

Tiga-tiga sayang PIJAR lagi

Satu-dua-tiga sayang PERSMA PIJAR….




Sayangnya, pagi itu juga kami harus pulang ke Medan. Karena besoknya masih ada yang harus kuliah (ginilah anak kuliahan ckck). Sebelum meninggalkan gunung, kami mengutip sampah-sampah area pegunungan agar gunung tetap bersih dan terjaga meski ramai pengunjungnya. *Cie anak baik

Mari pulang…marilah pulang…marilah pulang bersama-sama…

Mari pulang…marilah pulang…marilah pulang bersama-sama…

Ini aku pake gaya sok paten hahaha

Terima kasih buat seluruh crew awak PIJAR, awak USU Channel, awak P2KM yang udah kasi warna dalam cerita pertamaku naik gunung. 

Special thanks buat Puput atas gandengannya, buat Kak Pimum buat sleeping bed-nya, buat abang-abang yang bawain tasku sementara, buat temen-temen seangkatanku, buat adik-adik junior ilmu komunikasiku terima kasih yaaaa...



Sampai disini dulu ya cerita tentang gunungnya, buat kamu yang belum pernah ke Sibayak kamu wajib kesini. Gak akan ada kata menyesal deh..kalau kata-kata aku yang bilang betapa lelahnya jalan menuju gunung, ya abaikan saja, sebab itu akan terbayar ketika kamu menikmati indahnya, harumnya. Aku yakin kamu bakal rindu buat ke Sibayak lagi…

See you, salam kenal dari anak Medan yang baru pertama kali naik gunung. *Zakiyah Rizki Sihombing (AtuAlaa)

Buat yang gak tau, gunung Sibayak itu ada di kota Berstagi, Sumatera Utara. 


NB : Foto diambil oleh fotografer kece seperti : Alfi, Mitra, Wawan, Kak Puput dan Zakiyah Kece tentunya ...

Akun Fbku, buat yang mau nanya wkwk https://www.facebook.com/zakiyah.atuala

Sekali lagi, JANGAN KE SIBAYAK, NANTI KAMU KETAGIHAN !!!

Tags : Meutia Rachmi, Bagus Prakasa, Fathia Akhira, Kak Nurfitriyani, Mhd. Kurniawan, Alfi Rahmat Faisal, Ditha, Yohana, Atika Putri, Laura, Oliviardy Reviansyah, Muhammad Haris Nst, Rizka Aulia Maghfira, Lucky Andriansyah, Puspita Oktarinda, Ade Purna Puspita, Nurmala Sari, Hendro Joko Pryono, Sylka Amira, Chikita Putriliana, Sofyan, Mitra Rizki.

Tags : Sumut , Medan, Berastagi, Pijar, P2KM, Usuchannel, Zakiyah, AtuAlaa, April, Sibayak, Gunung


JANGAN KE SIBAYAK

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Kamis, 23 April 2015
With 2komentar

Anak Kembar yang Tak Selamanya Sama “TwiRies”

| Rabu, 15 April 2015
Baca selengkapnya »
Oleh : Zakiyah Rizki Sihombing


Judul Buku       : TwieRies (The Freaky Twins Diaries)

Penulis              : Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki

Penerbit            : de TEENS

Tahun terbit      : Mei 2014


Sumber foto dari internet ckckck 

Twiries merupakan singkatan dari the freaky twins diaries adalah karya penulis kembar bernama Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki. Keduanya adalah penulis novel, namun ini adalah buku kolaborasi pertama yang mereka tulis. Seperti novel karya Eva sebelumnya berjudul : I’m Not an Underdog (Buku Pop, 2006), Dunia Trisa (Stiletto Book, 2011), dan Love Puzzle (Teen@Noura, 2013) dan juga novel karya Evi yang berjudul ; Marsmallow (Chibi Publisher, 2008), CineUs (Teen@Noura, 2013).

Di televisi kita sering sekali melihat penggambaran anak kembar yang berbeda, seperti yang satu protagonis dan yang satu antagonis. Hal itu dianggap tidak adil oleh kedua penulis kembar ini karena pada sesungguhnya mereka merasakan banyak hal berbeda dari apa yang mereka dapatkan dari televisi. 

Di dalam buku Twiries ini, Eva dan Evi mencoba menjelaskan ; apakah setiap anak kembar memiliki masalah yang sama, apa beda dari si kembar, apakah si kembar saling ketergantungan, bagaimana anak kembar selalu dbandingkan dalam hal prestasi, sifat dan penampilan dan lain sebagainya.

“Apa sih bedanya kalian” tanya orang kesatu. “Nah, kalau mata Evi itu belo-beo sipit. Kalau saya sipit-sipit belo,” jawab Eva dengan bersemangat.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang keseratus tujuh. “Eva belo, eva sipit,” jawab Evi. Dengan tangan mengetuk-ngetuk meja tak sabar.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang ketiga ribu tiga puluh dua. “Belo, Sipit,” kata kami dengan muka datar dan memberi ajwaban yang tidak menjelaskan sama sekali.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu juta delapan ratus ribu empat puluh Sembilan. Menyipitkan mata. “…”

Ketika membuka halaman awal buku ini, pembaca akan menemukan foto sang penulis dimana secara refleks kita akan membandingkan wajah dari keduanya. Akan banyak perbedaan dari fisik tetapi untuk secara keseluruhan perbedaan dari si kembar akan disimak pada halaman-halaman selanjutnya. 

Twiries diceritakan oleh penulis kembar ini dengan contoh-contoh yang mudah ditangkap. Keduanya secara mudah menceritakan bagaimana mereka selalu dibedakan, dan munculnya pertanyaan-pertanyaan abadi dari masa ke masa seperti “siapa kakak dan siapa adik, lebih cantik mana Eva dan Evi, siapa yang lebih pintar.” Juga persoalan tukar menukar, apakah orang pernah salah panggil ketika melihat satu diantara mereka,bahkan mereka pernah tukar menukar sekolah karena ketika SMA mereka berada pada sekolah yang berbeda. Apakah misi tukar menukar sekolah mereka berhasil? Keseruannya dibahas secara mendalam, seperti bagaimana teman-teman Eva dan Evi dapat melihat perbedaan dari keduanya.

Novel ini dibagi menjadi tiga bagian dimana tiap bagian akan berisi hal-hal yang sering terjadi diantara mereka. Unsur komedi yang terdapat didalamnya juga menjadi bahan yang menjadi tawa para pembaca. Selain itu pembaca tidak akan merasa bosan karena selang beberapa halaman akan diisi dengan adegan-adegan komik yang akan membuat novel ini seolah makin hidup dan pembaca akan terus membaca sampai akhir.

Nah, pesan yang disampaikan dari novel ini adalah bahwa anak kembar tidak memiliki sifat, kepribadian, fisik seperti dibelah dua. Artinya tidak selamanya mereka sama seperti yang kita lihat di televisi. Ini adalah kisah nyata, tentunya akan memperkaya pengetahuan kita tentang anak kembar yang sesungguhnya.






Anak Kembar yang Tak Selamanya Sama “TwiRies”

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Rabu, 15 April 2015
With 0komentar

Nenek Renta Tumpuan Keluarga

|
Baca selengkapnya »
Oleh : Zakiyah Rizki Sihombing

“Sudah lebih 16 tahun Nenek gila menjaga orang gila” ujar Nek Dasniar dengan wajah yang menahan tangis.



Menjelang senja, cuaca kota Medan terlihat mendung. Awan gelap mulai menggelayut, Sepertinya hujan akan turun mengguyur kota. Orang-orang di sekitar lapangan Merdeka kota Medan tampak berpulangan. Menyetir mobil, menggas sepeda motor ataupun mengayuh sepeda dengan segera akibat cuaca yang tak bersahabat. Kendati demikian, masih terlihat sesosok wanita tua di depan pintu masuk lapangan Merdeka Walk yang masih belum bergegas.

Wanita tua itu terlihat mengenakan jilbab berwarna biru tua yang sudah lusuh, seragam berwarna coklat tua dan kaus kaki tebal yang membungkus kakinya. Ia tampak keletihan melayani pembeli yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Tangan yang dipenuhi kerutan itu pun tak henti-hentinya menyusun jualan yang ia jajakan di depan pintu masuk lapangan Merdeka Walk kota Medan. Hanya ada minuman botol, permen dan rokok yang dapat ia bawa dari rumahnya untuk dijual.


Beliau adalah Nek Dasniar. Selepas ashar hingga malam setiap harinya Ia habiskan waktu bersama putri bungsunya berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, anak bungsu serta seorang cucunya. Tak ada tawa yang tersungging dari bibirnya, sebab meskipun berdua Ia tetaplah dalam kesendirian.

Sambil bercerita kepedihan sesekali Ia melihat anak bungsunya, Lia. Sedang duduk terpekur menatap orang-orang yang lalu lalang di jalanan. Perempuan berusia 32 tahun yang ada disampingnya adalah satu-satunya anak yang masih bersamanya, gila dan tidak tau apa-apa.

“Jangankan membantu, berbicara pun dia sudah tak bisa. Tapi bagaimanapun dia adalah anak, Nenek harus menjaganya” kata Nek Dasniar lagi menahan pilu yang menyesak di dadanya.

Hanya dengan sepetak kamar di daerah Kampung Baru, Ia berlindung dari terik dan hujan, bersama dengan Lia dan cucu satu-satunya. Wajah yang kian mengeriput, badan yang semakin menyusut karena gizi yang tak seberapa Ia dapat rasakan. Dengan alasan uang hasil jualan sehari-harinya harus dibagi untuk pengobatan Lia dan biaya sekolah cucunya yang masih duduk si bangku SMA.
Tertanam dalam ingatan Nek Dasniar ketika Lia masih sehat 16 tahun lalu. Kecantikan yang dimiliki anaknya mendatangkan keberuntungan. 

“Dia dulu diterima kerja di kantor kebun kelapa sawit, karena orang suka sama dia, gajinya juga lumayan” 

Namun, takdir berkata lain. Tuhan mempertemukan Lia dengan seorang pria yang kemudian menikahinya. Di usia kehamilannya yang masih terbilang muda, sering terjadi perkelahian antara Lia dan suaminya. Lia dipukuli dan dianiaya sampai akhirnya sekarang dia gila dan tidak tahu apa-apa. Orang-orang sangat prihatin pada keadaannya, begitu pun dengan orang-orang di kantornya. Meski gila dan tidak bisa bekerja lagi, perusahaan masih memberinya uang pengobatan selama 3 tahun lamanya.
Beberapa kali orang-orang yang di sekitar lapangan Merdeka berdatangan, untuk sekedar mengajak Nek Dasniar bercerita atau membeli jualannya. Banyak orang yang mengenalnya, sebab tiga puluh tahun memang bukan waktu yang singkat untuk mengenal sosoknya. Terkadang Ia begitu bersemangat ketika tanpa diduga-duga ada yang dengan suka rela dermawan padanya.

“Anak Nenek ada lima. Satu meninggal, satu di Jakarta, satu di Malaysia, satu di Medan ini dan satu lagi dia” kata Nek Dasniar sambil menyapu pundak anak bungsunya.

Semakin pedih lagi hidup Nek Dasniar. Anak-anak yang ia memiliki semua melupakannya, tak satu pun yang perduli akan derita dan tangis yang telah mengering dimakan waktu. Meskipun memiliki beberapa anak tapi tak satupun yang mengingatnya. Untuk sekedar menjenguknya, memberi kabar atau bahkan memberi uang. Tak ada. Semua hilang dengan kebahagiaan masing-masing, lupa pada sosok tua yang sudah melahirkan dan membesarkan.
“Nenek itu adalah nenek yang kuat dan selalu bersyukur dengan nikmat Allah” komentar Sari yang merupakan pengunjung mingguan di lapangan Merdeka

Di tengah usianya yang hampir satu abad tersebut, ia masih terlihat kuat mencari nafkah. Tetapi keuntungan yang Ia dapatkan setiap harinya tentu tak cukup untuk membiayai hidup. Syukurnya Ia tak digusur dari lapangan Merdeka meskipun terkadang Ia harus mendapat lecehan preman pasar yang mencoba mengusiknya.

“Nenek hanya minta semoga Allah kasi nenek kesehatan untuk bisa bekerja, karena kalau nenek meninggal siapa yang akan merawat mereka” katanya lagi dengan sesengguk yang terlihat disembunyikan.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, gelap mulai menemani malam dan sang awan pun dengan seksama menjadi penguasa langit. Nek Dasniar, begitulah kehidupannya, banyak pilihan untuk menjadi lebih baik tetapi banyak pula rintangan yang menghalanginya

NB : Terima kasih kepada Mdouble yang udah ngebantu penulis dalam liputan. Tanpa kalian, hari itu mungkin tak ada. Semoga kita dapat mengambil sisi positif dari liputan hari itu. Terima kasih Mdouble (Maulida, Meilisa)

Kekecean kami waktu itu

Nenek Renta Tumpuan Keluarga

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲