Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Post Terbaru

KATAMU TENTANG HUTAN

| Kamis, 31 Maret 2016
Baca selengkapnya »



Hutan, Pemandangan, Tur
Hutan


Katamu kau menghidu aroma tak sedap belakangan ini
Tentu aku bergeming mendengar utaramu
Tentang apa yang kau kisahkan
Katamu kepalamu berpendar akhir-akhir ini
Asap mengepul membuatmu berdehem-dehem

Gontai aku tahu
Di dongkrak tempatmu tinggal
Banyak kisah yang harus diselesaikan
Tentang hutan dan keresahannya
Tentang gundah yang semakin memuncak

Berdasarkan ceritamu pepohonan kandas
Api melahap kebanyakan lahan
Kesegaran lenyap sementara udara menjadi problema
Dan kau semakin takut pada negerimu

Tidak, bukan salah negeri apalagi kau
Hanyalah segelinitir kepentingan
Yang menjadikannya demikian
Pun merusak hingga memuncak amarah

Kau dan aku tahu
Siapa pelakunya
Bukanlah kau apalagi para petani ini
Bergeminglah dan utarakan
Negeri menunggu tindakanmu, tindakan kita

Selamat Memperingati Hari Hutan Sedunia
21 Maret 2016

Lingkungan, Alam, Kerusakan, Hutan, Badai, Kusut, Kayu
Kerusakan Hutan


KATAMU TENTANG HUTAN

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Kamis, 31 Maret 2016
With 0komentar

AYO APRESIASI FILM INDONESIA

| Rabu, 30 Maret 2016
Baca selengkapnya »
[Selamat Hari Film Nasional]

Perfilman Indonesia memang sudah berkembang sejak zaman dahulu kala, terutama sejak diperingatinya Hari Fim Nasional pada 30 Maret 1950. Dimana kejadian tersebut ditandai dengan perjalanan sejarah film Indonesia yang berjudul ‘Darah dan Doa’ serta disutradarai oleh Usmar Ismail. Film tersebut adalah sebuah karya terbaik anak bangsa yang sengaja diproduksi oleh perusahaan milik orang indonesia yakni Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini).
Kamera, Tua, Antique, Voigtlander, Rasa Rindu
Selamat Hari Film Nasional

Seiring perkembangannya kita tahu bahwa film adalah tontonan serta hiburan semata yang mana memiliki peran dan kekuatan yang sangat luar biasa. Kekuatan itu diyakini mampu mempengaruhi cara pandang orang yang menontonnya. Suatu bangsa diyakini akan maju jika apa yang ditontonnya adalah cerminan budaya yang baik untuk perkembangan diri, masa depan dan hidupnya.
Proyektor, Film Proyektor, Bioskop, Demonstrasi, Film
Film

Bangsa Indonesia tidak dilihat dari segi bagaimana mereka mampu menghasilkan kekayaan tetapi bagaiman proses pencapaian yang telah dilaluinya. Bila dihubungkan dengan kondisi perfilman Indonesia mungkin jawabannya sangat singkat, adalah bagaimana Indonesia mampu memproduksi sebuah film yang memilki bobot serta eksistensi yang baik.

Apa yang dihasilkan bangsa Indonesia saat ini melalui produksi filmnya merupakan bentuk cerminan budaya Indonesia itu sendiri. Nyatanya ditengah upaya jerih payah bangsa Indonesia untuk memberikan penghargaan pada karya anak bangsa tetap saja film-film asing yang beredar seolah membanjiri di sekitarnya. Kondisinya tidak meyaknikan, karena kelihatannya tetaplah bahwa film Indonesia menjadi tamu di dalam rumahnya sendiri, tidak seperti film-film asing yang singgah lalu berkembang di negara orang lain.
Clapper Papan, Clapper, Film, Papan, Bioskop, Direktur
Clapper Papan

Kesadaran dan eksistensi mengenai penilaian sebuah film menjadi alasan bagi pengkonsumsinya, tak jarang bahkan masyarakat Indonesia sendiri memberikan rating buruk terhadap karya saudaranya hanya karena ingin dianggap keren karena menonton film-fim asing. Sebagian berpendapat bahwa film Indonesia tidak memiliki ketertarikan sedikit pun. Bahkan mereka tak tahu upaya dan jerih payah produksi film Indonesia sudah menelan miliyaran rupiah namun penjualannya tidak semudah film-film asing dikarenakan apresiasi yang tidak diterima dari masyarakat Indonesia itu sendiri.

Menakjubkan. Sebuah kata yang tergambar di benak para produksi film modern ini. Seberapa besar pun upaya yang mereka persembahkan tentu tidak akan memberikan efek apa-apa jika apresiasi dari bangsanya sendiri tidak terlihat. Kita sadar bahwa keterpurukan film Indonesia belakangan ini membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, karena apa? Karena 60% kuota pemutaran film Indonesia menurut undang-undang sudah cukup jelas untuk menggambarkan pemihakan yang seharusnya.
Kamera, Kamera Video, Lensa, Teknologi, Digital, Film
Camera Shooting
Berbagai permasalah lainnya tentu menjadi penghambat yang menjadikan kondisi perfilman Indonesia belakangan ini. Seperti keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan banyak lagi lainnya, sistem distribusi dan produksi adalah poin penting yang harus tetap dibenahi. Begitu pun dengan alur cerita yang disampaikan lewat film yang ditayangkan. Sebagaimana seharusnya bahwa masyarakat Indonesia berhak menerima informasi yang baik, tontonan yang berbobot dan dapat menjadikan pandangan yang baik kedepannya, apalagi jika hal-hal tersebut dapat merubah pola pikir penontonnya.
Perfilman Indonesia
Bukankah masa depan Indonesia juga bersebab atas dasar apa yang ditontonnya, baik itu lewat bioskop maupun televisi. Kesadaran serta apresiasi adalah hal yang paling penting diringi dengan cara-cara baru dalam mengeksplor perfiman Indonesia lebih baik lagi kedepannya. Jangan biarkan film-film asing membanjiri Indonesia sementara perfiman Indonesia tetap menjadi tamu di dalam rumahnya sendiri. Apresiasilah karya anak bangsa lewat upaya yang ditunjukkannya. 

AYO APRESIASI FILM INDONESIA

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Rabu, 30 Maret 2016
With 0komentar

SKRIPSI

| Jumat, 18 Maret 2016
Baca selengkapnya »
Toga

Segaris kata yang membuatku tak nyenyak belakang ini

Namanya melang-lang dalam ingatan

Pun membuatku bergelora tak karuan

Lalu terdiam dan tak kunjung kukerjakan



Terlalu banyak kalimat menggambarkan kepenatannya

Namun, usai kah aku menyentuhnya

Seminimal mungkin memegangnya walau sekejap

Tidak. Aku mulai malas



Skripsi

Bukanlah sebait puisi

Tapi barisan rapi penuh revisi

Memenuhi cerita belakangan ini



Mamak mulai rewel kapan aku diwisuda i

Padahal skripsi masih rapi

Dan aku baru akan memulainya hari ini

Skripsi, kita jumpa hari ini


NB : Ini hanya fiksi

SKRIPSI

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Jumat, 18 Maret 2016
With 4komentar

Membukut Kalut

| Kamis, 17 Maret 2016
Baca selengkapnya »
Gundah


Bukankah rindu yang telah mencederaimu

Membukutmu dari persoalan kalut

Lalu tanpa enggan meranca

Dan berpura-pura menuding yang lain



Ketidakpastian bukanlah harapan

Yang membuatku luka

Begitu pun kau hingga mengutara usai

Pada problema yang akhirnya kau gemaungkan



Bukankah akhirnya keresahan milik berdua

Meski kebersamaan tak lagi ada

Kau adalah penyebab

Sementara aku kau kalutkan



Inginku menggonggok rasa

Pun mengusai dera

Karenamu kutiada

Karenaku kau hilang jua.

Kalut




Membukut Kalut

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Kamis, 17 Maret 2016
With 0komentar

CATATAN SEJARAH SUPERSEMAR

| Selasa, 15 Maret 2016
Baca selengkapnya »

Melihat catatan sejarah Negara Indonesia setelah kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga saat ini tercatat beberapa masa pemerintahan, salah satunya adalah orde lama dan orde baru. Pada masa peralihan orde lama menuju orde baru tepatnya pada tahun 1966 telah terjadi sebuah peristiwa penting yang kini masih tercatat rapi dalam sejarah negara kita Republik Indonesia yaitu sbeuah peristiwa dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR) yang telah menjadi awal dimulanya masa orde baru.
Surat

Di dalam surat tersebut dinyatakanlah perintah tertulis yang ditandatangai Presiden Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966 , dimana di dalamnya terdapat perintah untuk Soeharto selaku Panglima Komandi Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib)  untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk memulihkan ketertiban dan keamanan umum yang memburuk pada saat itu. Sementara tak lama setelahnya Soeharto mendapat perintah kembali untuk melindungi presiden Republik Indonesia pada saat itu beserta keluarga, hasil karya dan ajarannya. Namun, disayangkan perintah tersebut tidak dilaksanakan Soeharto dan bahkan mengambil tindakan sendiri di luar perintah Presiden Soekarno.
Surat

Perintah tersebut nyatanya bukan karena kemauan Soekarno melainkan karna ia sedang berada di bawah tekanan, dimana pada saat itu Presiden Soekarno sedang mengadakan sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang dikenal dengan nama Kabinet 100 Menteri. Pada saat sidang telah dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal Presdiden Tjakrabirawa melaprkan bahwa terdapat banyak pasukan tak dikenal yang ternyata adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Idris dimana mereka bertugas untuk menahan orang-orang yang telah diduga terlibat dalam G-30-S/PKI, salah satu diantaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio.
Soekarno dan Soeharto

Atas laporan yang diterima presiden tersebut, sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II, tak lama setelahnya Presiden bersama Wakil Perdana Menteri I dan II kemudian berangkat ke Bogor menunmpangi helikopter dan disusul pula oleh Wakil Perdana Menteri II. Keadaan tersebut kemudian dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto yang pada saat itu menggantikan Letnan Jendral Ahmad Yani selaku Panglima Angkatan Darat dikarenakan gugur akibat peristiwa G-30-S/PKI.

Sementara Mayor Jenderal Soeharto berhalangan menghadiri sidang kabinet dikarenakan sakit, kemudian Soeharto mengurus tiga orang perwira tinggi angkatan darat menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor. Sesampainya di Bogor, tiga orang perwira tersebut akhirnya menyampaikan amanah Soeharto kepada Presiden Soekarno bahwasanya Mayor Jenderal Soeharto bisa mengendalikan situasi dan memulihakn keamanan yang memburuk tersebut apabila diberikan surat kuasa yang menyatakan bahwa ia diberikan kewenangan untuk mengambil tindakan.
Rapat

Melalui percakapan tersebut akhirnya Presiden Soekarno setuju dan dibuarlah surat perintah yang dikenal sebagai SUPERSEMAR yang ditujukan kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan berupa keamanan dan ketertiban. Surat tersebut akhirnya dibawa oleh Sekretais Markas Besar Angkatan Darat dan sampai di Jakarta pada 12 Maret 1966 pukul 01.00 waktu setempat.

Berdasarkan catatan sejarah tersebut, banyak yang menyimpulkan dengan pandangan yang berbeda-beda. Beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa latar belakang dikeluarkannya SUPERSEMAR adalah sebagai amanah untuk mengamankan situasi yang memburuk serta menertibakan keadaan yang mengacaukan negara akibat peristiwa G-30-S/PKI dimana hal tersebut mengancam stabilitas perdamaian Negara Indonesia dari golongan yang salah agar Indonesia tetap terjaga keutuhannya serta menjaga keselamapatan Pimpinan Besar Revolusi. Sementara pendapat lainnya mengatakan bahwa SUPERSEMAR sengaja dibuat bahkan dimaipulasi oleh golongan tertentu untuk pengalihan kekuasaan.


Catatan sejarah yang berbeda membuat orang-orang yang hidup pada masa ini kebingungan dan terus bertanya-tanya. Kami harus bertanya pada siapa. Selamat Hari SUPERSEMAR.

CATATAN SEJARAH SUPERSEMAR

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Selasa, 15 Maret 2016
With 0komentar

Gambaran Moral dan Adab Bersopan Santun Mahasiswa

| Kamis, 10 Maret 2016
Baca selengkapnya »

Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang tengah menempuh pendidikan tingkat tinggi di perguruan tinggi, universitas, maupun akademik. Mereka yang telah terdaftar di perguruan tinggi tersebutlah yang disebut dengan mahasiswa. Tetapi hal itu tentu tidak dapat menggambarkan peran mahasiswa yang sebenarnya, terdaftar pada perguruan tinggi hanyalah syarat administrasi saja. Sementara itu mahasiswa dapat diartikan secara luas karena yang disebut dengan mahasiswa sebenarnya adalah seseorang yang mampu membawa perubahan baik lingkup kecil maupun besar, perubahan tersebut tentunya harus menjadi sebuah solusi untuk menghadapi masalah masyarakat yang sedang terjadi sekarang.
Mahasiswa


Tak hanya itu, secara luas mahasiswa juga harus memiliki peranan moral dimana seseorang tersebut dituntut untuk menjalani hidup yang bertanggung jawab sesuai dengan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Peran tersebut diawali dengan individunya sendiri yang kemudian diharapkan dapat berkembang sesuai jalannya perubahan yang akan dilaksanakan.

Namun, jika menelaah kembali secara dalam kita akan tersadarkan dengan fenomena yang terjadi sekarang yaitu dimana seorang mahasiswa kehilangan adab bersopan santun. Hal tersebut dapat kita lihat dari contoh kecilnya dimana tatkala seorang dosen menjelaskan di depan kelas mahasiswa justru dengan santainya masuk tanpa rasa bersalah dan tanpa izin terlebih dahulu. Contoh lainnya adalah, mahasiswa sekarang khususnya laki-laki sudah tidak melihat kondisi dan situasi untuknya merokok bahkan yang membuat hal itu miris adalah mahasiswa tersebut merokok di lingkungan kampus dimana dosen bahkan melihat secara kasat mata.
Moral dan Sopan Santun Mahasiswa Harus Seimbang

Dalam hal ini mahasiswa dianggap tidak memiliki moral yang baik, apalagi lingkungan kampus adalah wadah untuk belajar bukan untuk menularkan pengaruh buruk bagi orang lain. Begitulah cerminan moral yang tergambarkan pada mahasiswa modern ini.

Padahal pada dasarnya semenjak di sekolah dasar kita sudah diajarkan dengan pendidikan moral yang diharapkan hal tersebut dapat menjadikan para pemuda dengan akhlak mulia. Moral dan adab bersopan santun semakin krisis, nyatanya pendidik bahkan menjadi salah satu korbannya, apalagi rasa hormat pun kian diabaikan.


Pendidikan karakter yang sudah diajarkan pun tak menampakan suatu perubahan yang signifikan, kenyataannya terlihat jelas dalam perilaku mahasiswa itu sendiri. Baiklah, mungkin bukan hanya mahasiswa, para siswa pun terlibat dalam hal ini tetapi hal yang justru menggelitik adalah mahasiswa yang seharusnya paling berpengaruh sebagai agen perubahan.

Kepandaian akademik maupun intelektual pun tidak berguna jika tidak dibarengi dengan sikap sopan santun dan moral yang baik. Begitu juga sebaliknya. Namun, adab sopan santun dan moral yang tidak baik tersebut tidak terjadi begitu saja. Hal yang paling berpengaruh sebenarnya adalah lingkungan, karenanya perlu berhati-hati menghadapi lingkungan yang demikain. Selain was-was, cara lain adalah terus belajar untuk tidak mudah terpengaruh.

Perlu kita ketahui, mahasiswa yang santun adalah cerminan budaya ya baik. Selain akan menjadi contoh baik generasi yang akan datang tentunya juga menjadi perubahan yang sangat baik apalagi hal tersebut juga akan memperbaiki image mahasiswa itu sendiri. Dengan demikian mahasiswa akan dihargai sebagai seseorang yang dapat dijadikan contoh serta dapat dipercayai calon generasi paling baik di masa yang akan datang.

Solusinya adalah bagaimana seseorang bisa menanamkan kebiasaan bersopan santun, beradab dan bermoral. Karenanya kebiasaan menjadi metode terbaik dalam mengatasi masalah yang ada. Meski tidak akan terwujud dalam waktu singkat tetapi setidaknya solusi tersebut dapat menjadi rencana jangka panjang.


Gambaran Moral dan Adab Bersopan Santun Mahasiswa

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Kamis, 10 Maret 2016
With 2komentar

Ritual Persembahyangan Tionghoa dengan Pembakaran

|
Baca selengkapnya »

Bagi etnis Tionghoa pasti sudah mengenal gaharu/ dupa atau bahasa mandarinnya disebut Ki Hio. Merupakan sebuah benda kebutuhan pokok etnis Tionghoa,  berwujud bubuk atau belahan kayu yang menghasilkan bau setiap kali dibakar, juga menghasilkan asap. Digunakan setiap ritual persembahyangan umat agama Budha. Kata Hio sendiri berarti harum, yaitu bahan pembakar yang dapat mengeluarkan asap berbau harum.

Ibadah  Etnis Tionghoa

Gaharu pertama kali dikenal pada jaman Nabi Khongcu (Kongzi). Tidak sembarang kayu, ternyata gaharu memiliki kandungan makna yaitu “jalan suci itu berasal dari kesatuan hatiku (Dao You Xin He)” dan “hatiku dibawa melalui keharuman dupa (Xin Jia Xiang Chuan).”

Berangkat dari sejarah dan makna tersebut, etnis Tionghoa kemudian mempersembahkan ritual dengan cara membakar gaharu yang disertai dengan menyiapkan berbagai makanan manisan, kue, tebu juga dentuman ratusan petasan yang diyakini sengaja disajikan untuk dipersembahkan kepada Dewa Langit. Persembahan ini diyakini memiliki makna tertentu dan diharapkan menjadi berkah bagi mereka yang masih hidup.

Kegiatan ini sendiri biasa dilaksanakan pada saat imlek, ritual kematian, upacara sembahyang leluhur, memberi makan arwah, ibadah tertentu maupun dalam keseharian. Pembekaran gaharau biasanya berfungsi untuk menentramkan pikiran, memudahkan konsentrasi, meditasi, mengusir arwah atau roh jahat, mengukur waktu (terutama pada zaman dahulu sebelum ada lonceng atau jam), mengheningkan cipta bahkan juga berfungsi sebagai alat pengobatan.

Pada sebuah perayaan ataupun ibadah biasa, kaum Tionghoa di Indonesia masih diizinkan membakar gaharu karena dianggap sebagai ritual persembahyangan budhis. Berbeda pula dengan negara-negara lain yang kebanyakan melarang kegiatan ini. Hal itu menyebabkan banyaknya kaum Tionghoa dari luar sengaja berkunjung ke Indonesia untuk melakukan ritual pembakaran gaharu tersebut.

Selain gaharu, juga ada benda lain yang kerap dipakai sebagai wujud ritual peribadahan yang diberi nama dupa. Menurut bentuknya dupa terbagi menjadi beberapa jenis dengan harum yang berbeda, diantaranya :

1.Dupa lidi disebut juga incense sticks (sticks karena pake lidi).
Merupakan dupa berbau harum yang paling banyak digunakan dalam ritual. Bentuknya seperti kembang api (memiliki tangkai dan dibalut dengan bahan dupa). Berdasarkan ukurannya dupa ini dibagi menjadi:
  1. Dupa halus, memiliki diameter 1.5 sampai 1,2 mm dengan panjang yang berbeda-beda dari 18 cm sampai dengan 39,5 cm.
  2. Dupa belimbing, memiliki diameter 1,4 cm sampai 2 cm dengan panjang 42cm sampai dengan 90cm. Pembakarannya sendiri memakan waktu 2 sampai paling lama 15 jam.
2. Dupa lingkar (incense coil)
Hampir mirip dengan bentuk lingkaran obat nyamuk bakar, dupa lingkar terdapat beberapa jenis tergantung lamanya proses pembakaran. Mulai dari 6 jam, 12 jam, 24 jam, 30 jam, 1 minggu, 2 minggu bahkan ada yang mencapai 1 bulan. Namun, dari kesemuanya yang paling sering digunakan adalah jenis dupa 24 jam.

3. Dupa bubuk (incense powder)
Terdiri dari bahan utama kayu cendana dan kayu gaharu berbentuk tepung, biasanya digiling terlebih dahulu hingga halus dan biasanya dijual perkarung. Variasi yang tersedia berjumlah banyal dari yang perkilo sampai per-ons. Banyak pendapat mengatakan bahwa dupa jenis ini susah dinyalakan padahal sebenarnya mereka tidak tau cara pembakaran yang tepat. Sehingga tak heran jika dupa jenis ini jarang digunakan.

4. Dupa stangi (incense cones)
Dupa jenis ini banyak digunakan di luar pulau Sumatera, berbentuk tumpeng seperti kerucut dengan diameter 1,5 cm hingga 2,5 cm dan tinggi 3 cm sampai dengan 5cm, juga terdapat produk yang lebih besar dengan diameter 10 cm hingga 15 cm dengan tinggi 15 cm sampai dengan 25 cm.
Pada umumnya dupa yang hampir sering dipakai adalah jenis dupa di atas, meskipun masih ada jenis dupa lainnya yang telah ditemukan sejak zaman dahulu kala. Pembakaran dupa biasanya dilakukan terhadap orang dengan kepercayaan serupa misalnya membakar gaharu maupun dupa kepada orang terhormat Buddha, Dharma dan Sangha. .



Ritual Persembahyangan Tionghoa dengan Pembakaran

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar

Tiga Poros yang Perlu Diterapkan dalam Pendidikan

|
Baca selengkapnya »

Indonesia adalah satu dari sekian negara di dunia yang sistem pendidikannya masih rendah. Mulai dari fasilitas sampai sumber manusianya sendiri belum mumpuni, sehingga membuat Indonesia kian tertinggal dari masa ke masa. Hakikatnya pendidikan adalah sebuah pengelolaan tentang bagaimana seorang manusia dapat menebarkan kebajikan, menumbuhkan manfaat sebaik-baiknya untuk memperoleh pengetahuan yang tidak biasa. Oleh karenanya, pendidikan di Indonesia harus segera dibenahi agar melahirkan generasi-generasi unggul demi memajukan tanah air.

Pendidikan

Arus global berjalan begitu cepat, memungkinkan Indonesia tertinggal semakin jauh dari negara maju lainnya seperti Korea, Amerika maupun Jepang sekalipun. Satu hal yang paling penting dalam memajukan pendidikan adalah mereka yang sedang berada dalam posisi “generasi muda.” Indonesia membutuhkan generasi-generasi yang peduli pada pendidikan untuk mewujudkan generasi impian bangsa, salah satu contohnya adalah siswa maupun mahasiswa.

Di Korea sendiri, seperti yang diceritakan Mr. Park, Jhang Hwan pada kesempatan talkshow Educatalk (23/1)  di Universitas Medan Area (UMA) bahwa Korea sendiri bisa sampai ke tahap sekarang, maksudnya tahap dimana sistem pendidikannya sudah dikatakan sangat baik dikarenakan mereka sudah mengadaptasi lebih dahulu sistem pendidikan negara Amerika dan Jepang. Tidak diadopsi secara keseluruhan, tetapi disesuaikan dengan kebiasaan dan budaya Korea sendiri.

Orang Tua

Hal itu berawal dari komunikasi yang tidak bersinergi antara orang tua dari guru sekitar 20 tahun lalu, kebanyakan dari orang tua masih menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting meski guru-guru disana sudah berusaha jauh lebih ekstra meyakinkan pada mereka. Hingga akhirnya generasi muda pada zaman tersebut terjun ke lapangan, mendatangi para orang tua untuk menyadarkan kepada mereka makna penting sebuah pendidikan. Lambat laun, para orang tua mengerti dan saat itulah para pendidik di Korea mulai bergerak memajukan sedikit demi sedikit sistem pendidikannya. Setelah anak-anak dari orang tua tersebut dewasa, kini mereka menjadi penerus generasi muda dahulu sehingga sistem pendidikannya tetap bagus sampai sekarang bahkan melahirkan generasi-generasi bangsa yang berkualitas.

Sistem pendidikan yang Korea contoh dari Amerika dan Jepang tidak berlangsung begitu saja. Korea melakukan penelitian terlebih dahulu, melakukan diskusi dengan dinas pedidikan dan jajarannya lalu kemudian disesuaikan dengan kebiasaan yang ada.
Guru

Prof. Dr. Abdul Munir, M.Pd selaku dekan Fakultas Psikologi UMA yang kebetulan juga narasumber dalam kesempatan ini mengungkapkan pendapatnya mengenai sistem pendidikan di Indonesia “memang benar, Indonesia belum tertata secara baik sistem pendidikan dan cara pengajarannya. Banyak persoalan yang harus kita tuntaskan dalam membenahi pendidikan itu sendiri, misalnya dengan cara mentransfer pengetahuan, mentransfer nilai dan mentransfer situasi yang ada kepada peserta didik,” jelasnya.

Munir juga bercerita bahwasanya ada baiknya Indonesia memakai sistem belajar seperti student centre learn. Tidak monoton seperti yang diterapkan guru-guru pada umumnya. Kesalahan Indonesia hanyalah pada metode, seperti bagaimana seorang guru khawatir anak didiknya tidak lulus ujian nasional lalu menaikkan nilai siswanya untuk menyelamatkan.

Indonesia
Hal tersebut menyebabkan dampak sosial seperti siswa menjadi malas untuk belajar karena merasa kemampuannya sudah cukup, disini terlihat bahwa guru indonesia kerap terjebak pada metode yang tidak benar. Ada baiknya dilakukan pembinaan secara afektif, kognitif maupun motorik untuk merangsang keinginan belajar lebih baik. Park Hwan menuturkan kembali melalui terjemahan dari Staffnya Kim Do Yeon dan Ariyani bahwa bukan hanya pengajaran seorang guru saja yang perlu diperbaharui tetapi bagaimana mereka hidup. Ekspektasi guru kepada siswa adalah hal-hal baik tetapi hal tersebut terkadang bersebrangan dengan apa yang diharapkan oleh orang tua siswa, kebanyakan dari orang tua hanya fokus kepada nilai dan prestasi akademik semata tidak pada apa hal positif yang sudah siwa tersebut lakukan. Yang terpenting adalah bagaimana komunikasi antar guru, siswa dan orang tua dapat bersinergi mewujudkan satu pemahaman.

Indonesia tergambarkan dari Korea 20 tahun silam yaitu masih berada pada masa dimana Indonesia masih berjuang membangun edukasi untuk menciptakan generasi impian. Dahulunya orang tua di Korea masih berfokus pada uang dan pekerjaan setelahnya baru pendidikan, tetapi berkat generasi pada zaman tersebut sistem Pendidikan di Korea berubah. Hasilnya lingkungan positif merubah segalanya.
Lingkungan

Melalui tema Educatalk yaitu sinergi tiga poros antara lain orang tua, Guru dan Lingkungan yang diselenggarakan oleh Komunitas Generasi Impian dan bekerja sama dengan Pemerintahan Mahasiswa serta Universitas Medan Area diharapkan mampu menciptakan sistem pendidikan Indonesia dan metode pengajaran yang lebih baik lagi. Dan generasi muda adalah harapan untuk menjadi generasi impian yang dapat melakukan perubahan signifikan tersebut.

Korea

Di akhir acara, Park Hwan kembali memberikan pernyataan untuk menggugah semangat generasi muda impian Indonesia. Beliau mengungkapkan mimpi bisa menjadi nyata tetapi hal itu hanya akan menjadi omong kosong kalau tidak diaplikasi melalui langkah-langkah terbaik.


“Saya percaya kita semua disini bisa menjadi leader-leader yang membanggakan,”tutupnya.

Perginya “Profesor” Alan Rickman

|
Baca selengkapnya »
Alan Rickman

Malam itu menjadi malam terakhir bagi Alan Rickman membuka mata sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kenangan lewat seni peran yang ia lakonkan. Alan, seorang profesor dalam serial Harry Potter kini tengah menjadi perbincangan hangat, para fans tentunya berkabung dalam-dalam. Hakikatnya, perasaan kehilangan akan dialami banyak orang. Terlebih pada sosok yang memberikan banyak kisah dalam perjalanan sebuah industri film kreatif terlaris pada zamannya. Kini tidak banyak yang bisa dilakukan, selain berdoa demi ketenangannya di Surga.

Profesor Severus Snape di usianya yang ke enam puluh sembilan tahun harus pergi. Kepergian yang tentunya tidak pernah ia rencanakan, keharusan karena kanker yang pelan-pelan kian menggerogoti nyawanya lalu raup memakan usianya. 

Perjuangannya melawan kanker akhirnya usai pada suatu malam 14 Januari 2016 lalu. Keluarga, bukanlah satu-satunya bagian yang kelak merindukan sosok humoris ini, sebab dunia bahkan mengenalnya lewat kenangan yang sudah ia torehkan.
ALAN RICKMAN

Meski terlambat meraih ketenaran seperti aktor pada umumnya, Alan memiliki satu hal yang paling menarik dari dirinya. Suara yang khas : berat dan nge-bass, membuat banyak orang mudah mengingat dirinya sebagai  Alan Sidney Patrick Rickman.

London-Britania Raya, menjadi saksi atas kematiannya. Rekan-rekan kerja, kerabat dekat sangat dikejutkan. Banyak massa yang tak begitu mengenalnya hanya melihat sosok Alan lewat peran antagonis dalam Harry Potter padahal nyatanya Alan adalah pemilik sikap ramah hati, hal itu membuatnya banyak dikenang dan dirindukan.

Kematian tidak membuatnya malah dilupakan. Tetapi semakin dikenang, tidak sedikit peran yang membuat kisah dalam perfilman menjadi lebih berarti. Seperti halnya yang diungkapkan oleh salah satu rekan kerjanya, Daniel Radcliffe. Dilansir dari media sosialnya ia mengatakan "Alan Rickman tidak diragukan lagi, salah satu aktor paling hebat yang pernah saling bekerjasama dengan saya. Dia juga salah satu orang paling loyal dan paling suportif di industri film."

Wafatnya Alan Rickman
"Saya sangat sedih mendengar tentang Alan hari ini. Saya merasa sangat beruntung dapat bekerjasama dan menghabiskan waktu dengan pria dan aktor yang istimewa ini. Saya akan selalu merindukan perbincangan kita. Istirahat dengan tenang Alan. Kami mencintaimu." Ungkap Emma Watson melalui akun facebook pribadinya.

Melihat dari sisi kematiannya yang terkesan tiba-tiba. Fans, rekan kerja dan kerabatnya cukup terkejut sebab Alan menyembunyikan kondisi kesehatannya, tahu-tahu ternyata kanker hingga akhirnya ia mati dalam kesakitan yang menakutkan.

Industri film kreatif kini tak kan bisa memakai perannya terkecuali mengembalikan kisah lewat akting yang sudah disiarkan sebelumnya. Mengenang, begitulah kiranya yang bisa dilakukan seraya berharap akan ada sosok yang dapat menggantikan kehebatannya dalam piawai memainkan peran.***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Beberapa film yang telah diperankan Alan Rickman :
Die Hard (1988), sebagai Hans Gruber.
- The January Man (1989), sebagai Ed, si tukang cat.
- Quigley Down Under (1990), sebagai Elliot Marston.
- Truly Madly Deeply (1991) sebagai Jaime
- Robin Hood: Prince of Thieves (1991), sebagai Sherif of Nottingham
- Close My Eyes (1991) sebagai Sinclair Bryant
- Closet Land (1991), sebagai Si Penyoal Siasat
- Bob Roberts (1992), sebagai Lukas Hart III
- Mesmer (1994), sebagai Franz Mesmer
- An Awfully Big Adventure (1995) sebagai P.L. O'Hara
- Sense and Sensibility (1995), sebagai Kolonel Brandon
- Rasputin: Dark Servant of Destiny (1996), sebagai Grigori Rasputin
- Michael Collins (1996), sebagai Eamon de Valera
- Judas Kiss (1998), sebagai Detektif David Friedman
- Dark Harbor (1998), sebagai David Weinberg
- Dogma (1999), sebagai Metatron
- Galaxy Quest (1999), sebagai Alexander Dane/Dr. Lazarus
- Help! I'm a Fish! (2000), sebagai suara Joe
- Blow Dry (2001), sebagai Phil Allen
- Harry Potter and the Sorcerer's Stone (2001), sebagai Severus Snape
- The Search for John Gissing (2001), sebagai John Gissing
- Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002), sebagai Severus Snape
- King of the Hill-"Joust Like a Woman" (2002) sebagai Raja Philip
- Love Actually (2003), sebagai Harry
- Something the Lord Made (2004), sebagai Dr. Alfred Blalock
- Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), sebagai Severus Snape
- The Hitchhiker's Guide to the Galaxy (2005) sebagai suara Marvin the Paranoid Android
- Harry Potter and the Goblet of Fire (2005), sebagai Severus Snape
- Perfume: The Story of a Murderer (2006), sebagai Antoine Richis
- Snow Cake (2006), sebagai Alex
- Nobel Son (2006), sebagai Eli
- Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007), sebagai Severus Snape
- The Villa Golitsyn (2007), sebagai Will Ludley
- Sweeney Todd (2007), sebagai Hakim Turpin
- Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1 (2010), sebagai Severus Snape
- Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2 (2011), sebagai Severus Snape

Perginya “Profesor” Alan Rickman

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲