Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Post Terbaru

Rapor Dini

| Minggu, 21 September 2014
Baca selengkapnya »
*(Ini adalah CERNAK pertama saya, untuk pertama kalinya pula terbit di Harian Analisa bulan Juni 2013 lalu, masih belajar dan masih penuh kekurangan)



Hari ini adalah pembagian rapor semester. Dini mendapatkan rangking satu setiap tahunnya. Ia sangat senang sekali. Sampai di rumah ia mendapatkan ucapan selamat oleh teman-temannya. Karena begitu senang dan tak sabar ingin bermain dengan teman-temannya, ia pun mencampakkan tasnya begitu saja dan tidak mengganti pakaian sekolah.

“Nak, ganti pakaiannya dulu baru main-main” nasihat ibu pada Dini. Tapi ia tak memperdulikan apa yang dikatakan ibunya. Dini terus bermain bersama teman-temannya hingga sore hari. Karena kelelahan Dini pun jadi malas bergerak untuk mandi.


Malam harinya, badan Dini berbintik-bintik merah. Ia pun menangis dan mengadu pada Ibu. Ibu bilang itu akibat ia tidak mandi sehingga nyamuk jahat mengigiti tubuhnya. Ibu menyuruhnya untuk segera mandi dan mengganti pakaian.


Libur semester ada dua minggu, Dini bisa bersenang-senag dengan teman-temannya lagi dan bermain sepuasnya. Dini bahkan belum mandi pagi, tetapi ia langsung pergi saja ke rumah Kiki yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya.


“Dini, mau kemana ? dicari Ayah tuh” terika Ibu sambil melambaikan tangannya. Tetapi Dini tak perduli dan berlari meninggalkanIbu yang memanggilnya.

Sepulang bermain, Dini langsung masuk ke kamarnya dan tertidur. Ibu yang memperhatikan Dini pun heran kenapa akhir-akhir ini Dini asyik bermain dan tak ingat waktu.

“Nak, mana rapornya. Sini biar Ayah lihat dan sekalian Ayah tanda tangani” ucap ayah ketika sarapan pagi.

“Oh , tunggu sebentar Yah biar Dini cari” ujar Dini tegas dan pergi ke dalam kamarnya.

Tak berapa lama kemudian.

“Ayah, rapor Dini hilang” ucapnya sambil menangis ketakutan

“Kemarin kamu letak dimana terakhir kali sayang ?” Tanya Ibu lembut

“Gak tahu Bu, Dini lupa” 

Dini pun menangis tersedu-sedu sambil ketakutan karena rapornya hilang. Ia takut dimarahin Ibu guru di sekolah.




***

Belakang setelah rapornya hilang, Dini jarang bermain lagi bersama Kiki. Ia terus mencari rapornya yang hilang. Begitulah ketakutan yang ia alami sekarang.

Hingga suatu ketika Ibu menemui Dini di dalam kamarnya.

“Nak, ini tas Dini kan ? di dalam ada rapor yang Dini cari” ujar ibu seraya tersenyum

“Ibu nemu tas Dini dimana ? makasih banyak ya Bu” jawab Dini terlihat begitu gembira seraya memeluk ibunya.

Ibu hanya melontarkan senyuman terbaiknya. Ibu sengaja menyembunyikan tas Dini agar lain kali ia dapat menjaga tasnya tidak mencampakkannya begitu saja.


*Medan

Rapor Dini

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Minggu, 21 September 2014
With 0komentar

Kado Ulang Tahun

|
Baca selengkapnya »
(Aku menulisnya setahun lalu, setelah membacanya hari ini aku sadar ternyata banyak kekurangan dalam penulisannya, yang berniat baca silahkan, yang tak suka abaikan wkwkw ; ini cuma FIKSI)



Tak terasa, lima hari lagi adalah ulang tahunmu. Sampai saat ini aku bingung harus memberikan kado apa, karena setahuku kau bukanlah seorang wanita yang berjiwa wanita hehehe. Namamu Risa tapi karena tingkahmu seperti laki-laki aku menamaimu Roso. Saat aku memanggilmu dengan sebutan itu kau hanya diam. Itu artinya kau setuju bukan. So, kau mau kado apa ? Apa lebih baik kuberi sebuh daster ya, supaya diumurmu yang ke 19 tahun nanti jiwa feminimmu bisa terwujud.

So, tahu tidak. Ketika aku berkompromi pada mama tentang kado apa yang akan kuberikan nanti padamu, mama bilang sebaiknya aku memberikanmu sebuah nama. Karena namamu yang sekarang tidak pas dengan sifat dan gaya hidupmu. Alhasil aku dan mama menertawaimu. Maaf ya So.

Oh iya, sudah lama ya kita tidak bertemu. Bagaimana sekarang postur tubuhmu ? tambah gemuk apa tambah cungkring seperti yang kulihat pada saat terakhir kali kita bertemu di acara perpisahan. Dan bagaimana keadaan jerawatmu ? aku masih mengingat katamu dulu, “Kalau kuliah nanti pasti jerawatku hilang total.” Apa benar sekarang jerawatmu sudah menghilang. Mudah-mudahan belum hilang ya, biar aku ada saingan hehe.

So, aku merindukanmu. Sudah hampir setahun kita tidak bertemu. Kapan nih kita bisa ketemu ? soalnya aku mau pamer. Rambutku yang dulu ikal sekarang sudah lurus seperti direbonding. Jangan iri ya So.

Jumat, 15 Maret 2013

Aku menelponmu tepat pada jam 12 lewat satu detik. Setelah kau mengangkat telponku, aku langsung menyalakan box music yang telah kusediakan sedari tadi. Lagu selamat ulang tahun itu mengalun lembut, aku masih menunggu lagu itu selesai dan siap siaga menunggu komentarmu.
“Halo Riso, bagaimana lagunya ? Ini rekaman suara asliku lo. Oh iya sekarang cek youtube ya,kata kuncinya (Riso, aku padamu )aku mengirimkan sesuatu untukmu”

Sekitar 15 menit aku menuggu dan tiba-tiba kau angkat bicara.

“Ki, maksudmu apa ? Kau udah pikun apa emang lupa. Atau jangan-jangan mau buat aku marah. Makasih lah untuk semuanya. Udah 5 tahun kita temenan tapi ini yang kau perbuat untukku”

“Eh, so…

Belum siap aku melanjutkan bicara, tiba-tiba saja telfonku dimatikan. Aku langsung mengecek film yang kuupload di youtube .

Aku merasa tidak ada yang salah dalam film itu. Bahkan aku telah membuatnya mati-matian selama tiga bulan. Tetapi apa yang salah ? Lalu sesegera mungkin aku menelfonnya.

“Halo So, apa yang salah dalam film itu ? Aku membuat film indie ini untuk menepati janjiku So. Apakah kau tidak ingat dengan janjiku dulu, yaitu akan membuatkanmu sebuah film indie ketika aku berhasil bergabung bersama komunitas editor kota Medan ? Ini fimnya So. 

“Tapi masalahnya hari ini bukan ulang tahunku Ki. 15 April ki, bukan 15 Maret, Dasar jahat”

Tuing, tuing. Aku jadi kalah malu ya ampun. Dasar aku pikun.

“So, maaaaa…”

Untuk kedua kalinya Riso mematikan telfonku, dia bener-bener ngambek. Dasar film pikun. Eh, dasar aku pikun.



*Medan, dalam kenangan.

Kado Ulang Tahun

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar

Hujan Resah

|
Baca selengkapnya »







Hujan bergelantung mencurah berkah

Angin membuncah dalam gelombang

Suara petir menyambar kasar

Menyuap pilu yang basah



Masih tetap sendiri

Memandang hujan tanpa usai

Kota bergelinangan resah



Mengenangi tempat peraduan


Hujan Resah

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar

Diam Membelenggu Rasa

|
Baca selengkapnya »




Secangkir kopi panas yang kau suguhkan 

Kala malam bergeser menjelang pagi 

Hawa dingin merusuk tulang belulang 

Jaket tebal membalut tubuh masing-masing 



Kita masih saling berdiam 

Menatap lembaran rapuh yang tercampak 

Berjatuhan dari pohon yang sedari tadi menari 

Adalah kita sepasang saksi 



Bukan tentang apa-apa 

Melainkan diam yang membelenggu rasa 

Kopi panas telah dingin bersama pagi 

Dan kita masih berkutat dalam diam


Diam Membelenggu Rasa

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar

Cerita Sapardi Tentang Hujan

| Sabtu, 20 September 2014
Baca selengkapnya »





Penulis                : Sapardi Djoko Damono


Judul Buku         : Hujan Bulan Juni


Jenis Buku          : Fiksi


Jumlah Halaman : 120 Halaman


Tahun Terbit       : Juni 2013


Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta






Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni


Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni


Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni


Sebab hujan bulan juni dirahasiakan rintik rindunya


Dihapusnya jejak-jejak kakinya


Dibiarkannya yang tak terucapkan


Pijar, Medan. Sapardi Djoko Damono mengumpulkan sajak-sajak pilihan dari beberapa buku puisi dengan sedikit koreksi, penambahan serta pengurangan sajak. Disajikan secara sederhana dan bermakna seperti kutipan diatas, nikmat untuk dibaca dan mudah untuk dicerna. Judul buku ini sendiri diambil dari judul puisinya yang terdapat pada halaman 104, dengan tahun pembuatan 1989 “Hujan Bulan Juni.”


Sapardi adalah penyair yang menulis kejutan dengan segala kesederhanaannya, ringkas dan pas. Sajak-sajak yang terangkum didalamnya adalah kumpulan dari beberapa buku puisi, yaitu duka-Mu abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium ( 1974) dan Perahu Kertas (1984). Kemudian ada beberapa sajak yang belum pernah dimuat yang kemudian dibukukan dalam buku ini.


Dari 120 halaman puisi yang terangkum adalah tentang hujan, aroma hujan. Entah rahasia apa yang tersembunyi di balik hujan, Sapardi Djoko Damono menafsirkan hujan dengan seribu tanda tanya dikepala pembaca.


Sepuluh judul puisi didalam buku ini memakai kata hujan yakni : Hujan-Jalak dan Daun Jambu, Hujan Bulan Juni, Sihir Hujan, Hujan Turun Sepanjang Jalan, Hujan dalam Komposisi 1, Hujan dalam Komposisi 2, Hujan dalam Komposisi 3, Percakapan Malam Hujan, Kuhentikan Hujan.


Lain pula puisi yang berjudul “ Iring-Iringan di bawah Matahari” terpapar dengan panjang lebar dengan makna bahwa matahari akan segeranya pergi meninggalkannnya terkunci sendiri.


Secara keseluruhan buku ini mengajak pembaca untuk menikmati hujan dengan halus, tanpa keluh kesah dengan turunnya hujan membasahi bumi. Hujan bulan juni kini menyisakan tanah yang basah dalam kesejukan.


Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa buku ini dapat dibaca oleh semua kalangan usia. Baik remaja ataupun tua. Dinikmati dengan berbarengan hujan yang menyapa pasti lebih bermakna. [ZRS]

Cerita Sapardi Tentang Hujan

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Sabtu, 20 September 2014
With 0komentar

Merapal Doa

|
Baca selengkapnya »




Lenyap tak bertanda jejak


Mengekarkan cerita tentang kita


Terdengih-dengih riuh nada kudengar


Dari ruang yang terperanjat tangis






Bukankah kau telah menjanjikan asa


Tentang sebongkah cita yang mengakari jiwa


Bukankah kau telah menjanjikan cinta


Tentang hidup berpeluh suka






Sudikah kini kurapal doa


Sementara kau melupa cita


Biar apa kau toreh luka


Lalu pergi tanpa kata






Bila telah tiba waktunya


Kita tak dapat lagi bersua


Untuk sekedar berbagi duka, luka dan suka


Atau bersama memanjat sebait doa




ini bukan sebuah elegi


Ataupun tangis tanpa henti


Tapi sebuah doa yang kurapal erat


Untukmu yang teramat janat



Selamat jalan


Untuk sahabat yang teramat hebat..




















Merapal Doa

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲