Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Umi Adalah Pelita

| Senin, 22 Desember 2014
"Ia memang tak terkenal,  tapi Ia adalah pelita bagi anak-anaknya" AtuAlaa.

   
Umi. Hanya tiga huruf, tapi sangat berarti. Kepadanya selalu kucurahkan setiap rinduku, kepadanya selalu kuceritkan langkahku, kepadanya selalu kutangguhkan mimpiku. May be aku tak punya banyak kenangan yang bisa diingat oleh teman-temanku di luar sana, tapi aku selalu dan will always punya banyak kenangan sama Umi. Karena meski pun jauh akan selalu kuukir kenangan dan rindu yang menggebu padanya.

      Lebih dari 2,5 tahun sudah aku jauh darinya. Dari wanita yang sangat kucintai saat ini. Awalnya dulu aku tak yakin bisa hidup tanpanya. Dengan segala kekuranganku, aku juga tak yakin bisa jadi anak mandiri tanpanya, bagaimana aku akan mengatur keuanganku dan bagaimana aku mengatur makanku. Kadang-kadang aku suka berfikir “kalau aku jauh dari umi, apakah umi akan tetap mengingatkanku untuk makan sayur dan buah, apakah ia akan selalu merindukanku, apakah ia akan menyerewetiku untuk tidak meninggalkan shalatku, ” Hal itu selalu terngiang-ngiang dibenakku. Tetapi, setelah aku menjalaninya ternyata aku mampu. Bahkan aku lebih mandiri dari yang kubayangkan, hanya saja sayur dan buah yang masih menjadi musuh terbesarku, ya hanya itu.


      Menjadi anak perantau ternyata bukan hal yang mudah, tak ada yang selalu membangunkanku ketika subuh, tak ada yang mengkhawatirkanku ketika sudah larut aku belum berada di kamarku, tak ada yang sibuk menyuruhku memakan pepaya yang telah tersedia di lemari es. Ya, TIDAK ADA. Aku merasa sangat kehilangan awalnya, semua kebiasaan umi di rumah sangat kurindukan. Tapi lambat laun akhirnya aku bisa (sebenarnya masih proses untuk memaksimalkan “bisa”). 

      Umi, adalah pelita. Umi adalah wanita paling hebat yang ada di dunia. Pengakuan ini kunyatakan bukan karena aku adalah anaknya. Tapi ini adalah penilaianku secara objektif. Melihatnya merawatku, melihat kekhawatirannya padaku ketika aku divonis oleh dokter. Aku yang pada saat itu merasa baik-baik saja, berasa kuat dengan segala kenyataan yang telah ditakdirkan Tuhan untukku. Namun, dari matanya aku dapat melihat sendu yang menggebu dan dadanya yang terasa sesak mengkhawatirkan keadaanku. Yah, disaat itulah aku merasa bahwa ia sangat menyayangiku.

      Aku belajar banyak dari ketangguhannya dalam berbisnis, aku mempelajari hal itu darinya. Hingga beliau menyuruhku untuk kuliah mengambil jurusan yang berhubungan dengan bisnisnya. Aku menolak, ya aku menolak. Karena kutahu itu bukan fashionku, aku bisa karena terbiasa bukan karena aku benar-benar menyukainya,



      Jika aku disuruh menuliskan tentangnya, mungkin tak akan pernah habis hingga waktu berakhir. Itu karena betapa banyak hal yang sudah kulewati bersamanya.

      Umi, pada hari ini izinkan aku mengucapkan rasa rindu yang teramat dalam. Rasa rindu yang setiap hari menggebu. Umi, setiap yang kulakukan adalah demi pencapaian cita-citaku untuk bisa sukses dimatamu. Aku tahu sukses bagimu bukanlah dinilai dari materi yang akan kudapatkan nanti tapi apapun yang kulakukan kuharap engkau mendukungku, karena seberapa sibuknya aku adalah untuk pencapaian mimpiku.

      Umi, selamat hari Ibu, Terima kasih karena sudah menyayangi aku sampai kini genap sudah 20 tahun usiaku. Terima kasih karena sudah mendukung apapun yang aku lakukan, terima kasih karena selalu mengerti kebutuhanku, terima kasih karena sudah menjadi Umi terbaik sepanjang masa, terima kasih karena selalu mengkhawatirkanku, terima kasih karena engkau selalu mengerti mimpiku, terima kasih Umiku sayaaang. 


      Kepada Umi dan Babah hati-hati di perjalanan menuju tanah suci, khusyuklah dalam beribadah, jangan terlalu khawatirkan kami disini karena kami akan baik-baik saja. Doakan Eky supaya bisa meraih mimpi Eky dengan mudah, doakan Eky supaya bisa jadi anak yang soleha, doakan Eky supaya istiqamah dalam menulis. Eky sayang Umi dan Babah.

      Kalau seandainya suatu saat nanti Umi sama Babah baca tulisan ini, Eky cuma mau bilang maaf yang sebesar-besarnya karena sudah menyusahkan Babah sama Umi selama ini, maafkan Eky ya :’) sayang Umi dan Babah selamanya. Semoga kalian baca ini yaaaa, karena untuk menyatakannya langsung Eky merasa tak mampu. I love Mom and Dad .

Happy Mother’s Day. Umi adalah pelita.








By : @AtuAlaa
22 Desember, 00.07 WIB

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲