Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Post Terbaru

Akhmad Rapiudin, Mahasiswa Bidik Misi USU yang Berprestasi

| Senin, 30 Mei 2016
Baca selengkapnya »

Akhmad Rapiudin

Akhmad Rapiudin merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara stambuk 2012. Pria kelahiran Tangerang, 20 Juni 1993 ini memiliki segudang prestasi mulai dari tingkat lokal, nasional, maupun Internasional. Ia juga aktif di berbagai kegiatan, salah satunya yaitu kegiatan sosial.

Rapi, biasa ia disapa akrab oleh teman-temannya, beberapa prestasi mengenai public speaking telah beberapa kali dijuarainya, ia juga pernah menjadi The 1st Best Essay Presentations, yang diselenggarakan World Universal Peace Federation di Manila Hotel, Philipinnes pada Asian Summit 2015 yang diikuti 112 negara dari seluruh Asia. Dalam kongres pemuda tingkat Internasional itu, Rapi menulis essay dengan tema: “Toward Peace, Security and Human Development in The Asia Pasific Region”. 

Selain itu, Duta Lingkungan Greeneration FKM USU 2014 ini juga membawa oleh-oleh The 1st Best Art and Cultural Performance, pada acara Philippine-Indonesia Leadership and Cultural Exchange pada tahun yang sama. Ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia untuk menampilkan kesenian daerah, salah satunya seperti Tarian Sumatera. 

Tak hanya itu, ia juga lihai dalam bidang menulis, hal itu terbukti saat pada tanggal 15 Mei 2016 Rapi berhasil mendapatkan juara 3 lomba essay se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidik Misi (PerMadani Diksi) Tingkat Nasional di Universitas Islam Riau pada Indonesian Golden Generations Summit 2016. Ia bersaing dengan 58 perwakilan dari Universitas yang berbeda-beda, dan essay tersebut bertema “ Materialistic Bullying Effect”.

Pelopor buku Langkah Tak Beraturan Keluarga Mahasiswa Bidik Misi (GAMADIKSI) USU ini juga menjadi delegasi dari Provinsi Sumatera Utara di Indonesian Culture and Nationalism (ICN) 2016. Proyek sosial yang membuatnya mampu menjadi perwakilan dari Sumatera Utara adalah mengenai Laskar Bocah Sungai Deli, Wadah Pemberdayaan Anak Bantaran Sungai Deli dalam mewujudkan Generasi Sehat Berkarakter Hebat. Meskipun ia berasal dari Tangerang, namun ia menjadi perwakilan dari Provinsi Sumatera Utara. “ Waktu tak akan kembali lagi, jadikan waktu itu bermanfaat dengan terus mencari ilmu”, ungkap Rapi.

Rapi yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Bidikmisi (GAMADIKSI) USU ini, tidak hanya aktif di bidang public speaking namun juga aktif dalam kegiatan sosial, salah satunya adalah ia aktif di Gerakan Sumut. Ia adalah sebagai volunteer, pilot project dan menjadi relawan terbaik pada angkatan pertama. Ia terus membagi ilmunya hingga ke pelosok negeri. “Bermanfaat bagi orang lain adalah anugerah karena sedikit perubahan yang dilakukan akan berdampak besar bagi pendidikan bangsa Indonesia sendiri, “ujar Rapi.

Berkat segudang prestasi yang ia miliki, Rapi pernah menjadi mahasiswa yang mendapatkan penghargaan dari Rektorat USU tahun 2015 di tingkat Nasional maupun Internasional. “Meskipun sibuk dengan tugas akhir, memanfaatkan waktu untuk terus mencari ilmu tidak akan saya sia-siakan karena kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya dan yang utama adalah jangan mudah berbangga diri. “ tutup Rapi. (STEP PUBLISHER)

Doni Latuparisa, Aktivis Lingkungan Medan

| Minggu, 29 Mei 2016
Baca selengkapnya »
Apabila engkau bekerja sungguh-sungguh, berarti engkau memenuhi sebagian cita-cita itu yang pada hakikatnya engkau mencintai kehidupan. Kalil Gibran (bekerja, cita-cita, kehidupan)

Doni Latuparisa KeMANGTEER
Seperti kata mutiara diatas tidak ada cita-cita yang dapat digapai dengan mudah tanpa kerja keras. Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak bisa terlepas dengan adanya cita-cita dan tujuan hidup mereka. Cita-cita sendiri merupakan suatu spirit yang sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan karena tanpa cita-cita kita tidak memiliki tujuan hidup.

Seperti yang dilakukan Doni Latuparisa. Doni adalah sosok pemuda yang bekerja keras untuk mencapai cita-citanya. Pria yang baru saja meluluskan pendidikan S1 Antropologinya ini memilki cita-cita menjadi seorang guru ataupun dosen.

Namun, dikarenakan salah satu persyaratan menjadi dosen ialah harus menyelesaikan pendidikan S2 terlebih dahulu membuat ia belum bisa menggapai cita-citanya menjadi dosen saat ini. Doni Latuparisa adalah seorang pemuda yang sangat peduli akan lingkungan. Di usianya yang masih terbilang muda, pria ini sudah sering melakukan kegiatan terkait isu lingkungan. Kecintaannya terhadap lingkungan diawali dengan mendirikan sebuah komunitas peduli hutan mangrove yaitu Kelompok Mangrove Volunteer Medan (KeMANGTEER MEDAN) pada awal tahun 2014.

Doni Latuparisa-Aktivis KeMANGTEER
Doni sebagai generasi penerus bangsa mencoba membangun semangat para remaja lainnya agar mau peduli terhadap lingkungan sekitar terutama terkait masalah hutan bakau, dengan mendirikan sebuah komunitas peduli hutan mangrove. Perjalanan dan pengalam yang telah ia lalui terhadap isu lingkungan membawanya bekerja di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) sebagai sekretaris. WALHI adalah organisasi lingkungan hidup independen, non-profit dan terbesar di lingkungan.

Pengalamannya menjadi pengelola dan pendiri KeMANGTEER membuat doni merasa lebih dekat dengan cita-citanya karena,” aku masih bisa mentransfer ilmu yang aku punya. Dan ilmu yang didapat mereka bakal ngalir terus meskipun aku udah ga ada. Artinya, pahla tetap mengalir bermanfaat bagi orang lain. Sudah kujalani sejak aku pilih fokus berorganisasi” ujar doni.

“karena dengan berorganisasi aku tetep bisa menstransfer ilmu yang aku punya dan banyak kulihat seorang pengajar yang awalnya emang aktif di organisasi juga. jadi yaudah aku jalani aja apa yang saat ini berada di depan mata” ungkap doni.

Saat ini doni sedang mencari beasiswa S2nya agar ia dapat mewujudkan cita-citanya menjadi seoarang dosen. Cita-cita menurut doni adalah pencampain hidup yang harus dikejar. Tidak mudah memang diperlukan kerja keras dan kegigihan dalam menggapainya. Namun, doni tetap berusaha menjadi yang terbaik.Keluarga adalah alasan mengapa ia sampai saat ini. Cintanya terhadap keluarga ia buktikan dengan kesuksesannya. (Radix-Publisher)
Next Prev
▲Top▲