Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Rasanya Jadi Reporter di Jakarta

| Minggu, 07 Januari 2018
Haloooooo semuanyaaaaaaaa...

Ada yang rindu mau baca tulisan aku gaaaaak? Gak ada ya? Yaudah gak apa, aku tetap nulis aja, kali aja walaupun terpaksa kalian-kalian teteup mau baca #inimaksa.

Yeay, kali ini aku mau bagi pengalamanku selama jadi reporter/wartawan/jurnalis di Jekerdah, ibu kota klen ini lah pokoknya. Oh iya lupa, aku belum cerita ya kalau sebelum jadi reporter aku sempat kerja di salah satu bank swasta di Jakarta ini. Tapi tau klen, cuman sanggop tiga bulan aku disana coy. 
Acara Munaslub Golkar, muka lagi super ngantuk gak bisa dikondisikan

Ada beberapa alasan sih kenapa aku akhirnya milih resign dan back to jobless.

1. KENA MARAH EVERYDAY, EVERYTIME, EVERYTHING

Aku lelah setiap hari dimarahin sama nasabah, baru duduk di kursi kerja, udah ada aja nasabah yang ngomel-ngomel enggak jelas, udah awak bantu tetap aja merepet dia. Nah, tiap kali ada nasabah yang marah-marah gini biasanya aku tetap coba khusnudzon, karena dia kan marahnya sama bank-nya bukan samaku, jadi sebisa mungkin aku tanggapin dengan lemah lembut dan senyuman terbaik. Walaupun aslinya, pengen kuterkam aja nasabah itu.

2. ENGGAK BOLEH BAWA HANDPHONE

Jadi, di bank itu posisiku sebagai phone banking officer (PBO), ya semacam melayani nasabah via telepon. Nah, selama kerja kita harus fokus sama telepon dari nasabah, yang kalau telepon dari satu nasabah mati langsung masuk telpon dari nasabah lainnya. Istilahnya gak bisa lah kita berhenti becakap, Cuma bisa menelan ludah aja wkwk. Karena itu setiap PBO dilarang bawa hp ke ruang kerja. Masalahnya bukan apa-apa, aku khawatir aja ada yang urgent nelpon selama aku kerja dan itu enggak bisa kuangkat karena posisinya hp dan barang-barang lain disimpan di loker. 

Sebenarnya aku masih punya alasan lain, tapi itu bukan alasan yang terlalu masalah, kayak misalnya harus makeup, jarak kantor yang terlalu jauh dari tempat tinggal, cerita orang tentang #riba, dan konsekuensi tinggi kalau melakukan sebuah kesalahan.

Udah ya, kok malah cerita kerja di bank pula, back to topic!

Jadi, sebenarnya kalau boleh jujur aku pengen kali kerja di TV. Tapi mungkin rezekinya belum kesana. Dan akhirnya aku milih untuk jadi reporter di media online. Waktu wawancara, CEO perusahaanku nanya tentang topik apa yang paling kusukai dalam liputan, tentu saja aku menjawab tentang generasi millenial, anak muda zaman sekarang atau hal-hal yang berkaitan dengan biografi, profile, kuliner dan semacamnya. Sesuai dengan media online tempatku bekerja sebelumnya yaitu ceritamedan.com. 
Liputan Natalan di Monas

Tapi kenyataannya, redaktur nempatin aku di politik, tepatnya aku diminta untuk nge-pos di kantor DPR. Rasanya kesel, males dan gak semangat buat liputan. Mau gak mau, aku harus mau, ya walaupun di awal cukup berat untuk memulainya.




Nah, di masa-masa awal menjadi reporter politik aku ngerasa kalau aku orang yang paling bego sedunia, banyak enggak taunya, semua semua gak tau, banyak isu yang ketinggalan, sampai aku harus mengejar ketertinggalan isu itu dengan membaca berita setiap saat, setiap waktu.  Aku akhirnya mulai bisa dan terbiasa. Sekarang aku malah jadi kaku kalau diminta untuk nulis feature hahahaha. 
Acara Hari Pahlawan di TMPN Utama Kalibata

Kalau ada yang nanya gimana sih dunia reporter itu sebenarnya, dapat banyak tekanan gak? Waktu kerjanya gimana sih?

Nah, saatnya aku jawab ini, tapi harus digarisbawahi ya, setiap media punya regulasi yang berbeda, sehingga enggak semua reporter punya tekanan yang sama dalam bekerja.

Alhamdulillah nya aku kerja di media start up, jadi sekarang ini belum terasa berat bebannya. Ya tapi tetap aja tekanan tentu tetap ada, kayak misalnya dalam sehari harus ngirim lebih dari lima berita, setiap berita harus disertakan dengan foto, establish, teks, video/podcast. Lumayan ribet sih dibanding media lain, tapi setidaknya enggak harus running news sehingga masih ada waktu buat bernafas, walaupun sekali dua kali haha.

Registrasi Partai untuk Pilkada di KPU
Untuk waktu kerjanya sendiri itu tentu unpredictable, jadi kamu bisa aja liputan dari pagi sampek tengah malah. Tergantung kemana kamu dilemparkan. Kalau aku sih karena ngepos-nya di DPR ya enggak terlalu overtime, setidaknya aku harus udah nyampek DPR di hari Senin-Jumat itu maksimal jam 9 pagi, dan pulang bisa sampek jam 9 malam, tergantung ada enggaknya isu, pimpinan atau acara di DPR.


Sementara hari Sabtu dan Minggu aku teteup kerja ya guys, bukan libur hahaha. Liburnya cuman satu hari, kadang hari Sabtu, kadang hari Minggu, tergantung penugasan dari redaktur. Nah, di dua hari ini aku enggak di DPR karena DPR nya libur, biasanya aku disuruh liputan ke lapangan kayak misalnya liputan Car Free Day, liputan di Monas, atau acara-acara lain lain. Tapi karena ini #tahunpolitik biasanya aku dilempar ke agenda orang partai.

Rapat Paripurna DPR RI
Nulisnya gimana sih, bawa laptop gak setiap hari?

Nah, ini dia yang paling greget, di awal jadi reporter aku selalu bawa laptop sih, karena aku enggak terbiasa nulis berita di handphone. Tapi lama-kelamaan punggungku jadi sakit karena bawa beban terus setiap hari, belum lagi bawa #bebankehidupan. Kadang kalau pas lagi males bawa laptop aku make komputer yang ada di press room DPR, cuman ya kan kadang juga dipake sama reporter lain.

Akhirnya aku mencoba terbiasa menulis di handphone, untungnya kantor memfasilitasi aku sebuah hp yang agak kerenan buat kerja jadi nulisnya makin semangat deh.

Apa pengalaman yang paling berkesan selama jadi reporter?

Tiap hari sih berkesan, karena setiap hari ketemu orang baru, kemampuan nulis juga jadi meningkat meski pun ya enggak bagus-bagus amat. Tapi yang paling berkesan itu adalah waktu aku liputan kebakaran salah satu ruangan di DPR, aku kehirup banyak asap dan akhirnya jatuh, untungnya enggak sampe pingsan tapi jadi batuk-batuk berkepanjangan. Alhamdulillahnya tim medis langsung larikan ke UGD Yankes DPR dan aku langsung dipasangin oksigen, sedihnya waktu susternya nanya, “Mbak namanya siapa? Zakiyah, umurnya? 23, tanggal lahirnya? Hari ini saya ulang tahun,” langsung deh mewek, si susternya juga ikutan sedih dan bilang “sabar ya mbak, ulang tahun kok malah dapat cobaan.”

Cobaan di hari ulang tahun hahaha
Apa yang paling seru?
Ini juga banyak, salah satunya itu waktu di acara-acara besar yang dihadiri sama presiden, panglima TNI atau orang-orang penting lainnya. Jadi pada momen inilah emosi kita dipertaruhkan, karena harus siap himpit-himpitan sama reporter lain, rebutan nanya, rebutan ambil foto dan video. Kalau dalam dunia reporter, ini namanya doorstop. Aku sendiri selama doorstop pernah sampek jongkok, duduk, berdiri, berdiri tapi tunduk-tunduk, pokoknya segala macam gaya biar gimana caranya enggak menghalangi kamera TV media sebelah, tetap bisa ngerecord suara si narsum tanpa menyentuhnya. Belum lagi kalau harus doorstop sambil lari-lari karena narsumnya enggak mau kasi komentar. 

Doorstop Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto
Dari semua pengalaman doorstop, ada sih yang paling sedih, waktu itu mau doorstop-in Jusuf Kalla di acara Munaslub Partai Golkar, nah disitu posisisinya Pak JK semacam enggan gitu kasi komentar, jadi kita harus teriak-teriak “Pak permisi pak, sebentar pak,”. Kita mau maju ngedeketin juga enggak dibolehin sama Paspampresnya, alhasil aku yang berdiri di depan jadi didorong-dorong sama reporter di belakang sampe jatuh, mau mundur juga enggak bisa, aku nyoba mundurin badan dan akhirnya leherku kejepit reporter lain, mau mundur dan maju sama sekali enggak bisa. Alhasil pasrah dan sumpah itu sakit banget, sekitar 4 menitan nahankan posisi kayak gitu rasanya pengen marah tapi enggak tau harus marah ke siapa.

Munaslub Partai Golkar

Temu Selebgram di MPR RI

Upacara Pemakaman Anggota DPD RI AM Fatwa

Demo UMP di Balai Kota

Pak Jokowi di DPR RI

Udah ya, ntar kalau diceritain semua jadi enggak seru. Kalau ada yang pensaran cerita lainnya, boleh komen atau chat personal aja ya guys. 

Intinya jadi reporter itu seru! Pas lah buat klen yang suka tantangan.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Mau nanya Mbak? Jadi reporter di Ibukota gajinya sebanding gak dengan biaya hidup disana ... // hehe

    BalasHapus

Next Prev
▲Top▲