Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Review Cerita 2016

| Selasa, 21 Februari 2017


Detik ini, saya masih saja terkenang. Tentang satu paragraf yang telah berhasil saya tuliskan namun akhirnya saya lenyapkan hanya karena tulisan ini berisi tentang –nya-. Saya takut saja, bilamana terus melanjutkan saya akan terbuai lalu sulit untuk melupakannya lagi meskipun sudah dua tahun kepergian tanpa berita itu terjadi.

Baiklah, saya akan memulai kehidupan baru di tahun baru dengan harapan baru pula tentunya. Namun, sebelumnya saya ingin sedikit merangkum perjalanan yang telah saya lalui selama satu tahun belakangan ini. Tidak banyak keberhasilan yang saya raih satu tahun ini, tetapi saya bersyukur karena setidaknya tahun ini masih lebih baik dari tahun sebelumnya. Ya, pencapaian yang baik untuk kemudian bisa saya ceritakan pada orang lain suatu saat nanti.

Awal tahun 2016, tepatnya pada 11 Januari saya diterima bekerja di salah satu perusahaan media online dan digital menjadi seorang reporter. Saya sangat bersyukur untuk ini, karena tanpa disangka saya adalah satu-satunya karyawan yang lolos lewat jalur seleksi berkas dan wawancara ketika itu. Ini adalah pengalaman bekerja pertama saya, sebelumnya saya cukup ragu karena ketika itu saya juga tengah disibukkan dengan kegiatan kampus yakni menyusun skripsi sebagai syarat lulus dari Universitas Sumatera Utara. Tapi, saya sadar bahwa saya juga perlu banyak belajar dari pengalaman bekerja agar kelak tak terkejut dengan dunia setelah wisuda. Saya mencoba untuk sibuk pada dua hal di awal tahun baik ini yakni bekerja dan menyusun skripsi.
Ini masih jadi reporter baru udah kena jepit aja sama reporter senior, habisnya nemunya sama Pak Menteri sih
Sempat berpikir bahwa skripsi saya akan terbengkalai dikarenakan pekerjaan yang tak kunjung usai meski sudah saya selesaikan sejak pukul 09.00 pagi hingga 18.00 sore, bahkan tak jarang saya lembur mengejar deadline hingga jam 21.00. Nyatanya benar, apa yang saya pikirkan lantas benar-benar terjadi, hampir dua bulan saya meninggalkan dan melupakan skripsi. Ya, skripsi teronggok dengan rapinya sampai-sampai saya malu ketika ditanyai oleh teman sebaya “sudah bab berapa”? rasanya ingin segera pergi dan pingsan begitu saja.
Liputannya sering sama abang-abang hahaha
Dalam seminggu, rasanya saya selalu menunggu hari minggu, berharap hari itu dapat menjadi hari yang melegakan bagi saya untuk sedikit menenangkan otak kemudian lanjut membuka skripsi yang telah lama tertinggal, tetapi nyatanya saya harus tetap pergi, baik itu untuk liputan dadakan ataupun pergi belanja untuk dijual kembali di kampung oleh ibu yang kebetulan membuka sebuah toko pakaian.

Liputannya wawancara artis, ada Chelsea Island sih

Tak terasa, sudah dua bulan saya bekerja dan selama itu pula saya tidak pergi ke kampus. Jangankan ke kampus, untuk bertukar kabar dengan teman-teman yang sama-sama sedang menyusun skripsi pun saya enggan, saya seolah-olah takut kecewa pada diri sendiri. Namun, kabar-kabar terus berdatangan, beberapa teman saya akhirnya akan sidang skripsi, sontak saat itu saya bergegas untuk segera melanjutkan skripsi yang sudah lama tertinggal. Harapan untuk wisuda di bulan lima akhirnya pupus, saya menyesal.

Saya mencoba menguatkan diri bahwa wisuda terbaik adalah wisuda di waktu yang tepat, toh saat itu tidak lebih dari 10 orang teman satu angkatan yang berhasil diwisuda bulan lima *sokkuat. Meski demikian, saya tak mau menyerah, tiba-tiba saja semangat saya membuncah dalam mengerjakan skripsi, banyaknya kesulitan seperti sumber pustaka yang tidak lengkap, responden yang sulit ditanyai dan juga waktu yang tak mencukupi membuat saya semakin semangat karena saya ingin segera menemui kemudahan di balik kesulitan yang tengah saya hadapi ketika itu.
Banyak yang bilang kami kembar hahaha
Untungnya, saya memiliki bos yang sangat pengertian, sehingga pekerjaan dan kewajiban menuntaskan skripsi bisa seimbang, terima kasih bos. Dua puluh empat jam dalam sehari tentu tidak cukup, sebab kebiasaan saya menjadi sangat berubah, tak jarang sepulang liputan saya langsung terdampar lalu terlelap dengan pulasnya di kos-kosan. Tengah malam saya akan bangun untuk mandi, makan lalu mengerjakan skripsi hingga pagi menjelang masuk kantor. Kebiasaan ini sontak membuat berat badan saya naik 5 kg, kalian tentu bisa membayangkan segemuk apa saya sekarang.

Sama Papa Hans ganteng


Semakin saya giat, semakin banyak pula kesempatan yang hadir, bisa dibilang karir saya membaik dengan banyaknya tawaran liputan dari beberapa perusahaan dan merk produk di Kota Medan, untuk sekedar mempromosikan produk maupun wawancara, saya bertemu dan memiliki banyak teman disini. Membuat saya merasa cukup bangga menjadi seorang reporter kala itu. Tak jarang, liputan ke luar kota menjadi makanan saya meskipun saya harus menjadi satu-satunya reporter paling muda, yang berarti saya berada di tengah-tengah reporter dengan sepak terjang yang luar biasa, ya saya juga banyak belajar dari mereka.

Masih terus berkutat dengan pekerjaan dan skripsi, lagi-lagi saya harus membagi waktu untuk melakukan penelitian terhadap enam responden saya yang berasal dari berbagai golongan seperti akademisi, praktisi penyiaran dan mahasisa jurusan Ilmu Komunikasi di Kota Medan. Mungkin kalian akan tahu bagaimana sibuknya saya, bahkan makan tak teratur (tetapi teteeeeup gendatzzz), untungnya saya punya badan yang strong dan tidak tumbang di saat yang tidak tepat.

Menjalani waktu demi waktu dengan terus bersyukur dan memanjat doa, akhirnya kabar baik itu datang. Awal Juni 2016, skripsi saya di ACC, suatu kebanggan terbesar bagi seorang Zakiyah Rizki Sihombing yang selama ini telah memakan banyak waktu untuk (mengabaikan) skripsinya. Perjalanan tidak selalu mulus, sidang skripsi saya akhirnya harus diundur karena doping harus pergi ke luar kota. Oke, saya menunggu momen itu, 24 Juni 2016.
Rasanya bahagia yang tak tergantikan adalah ketika saya dinobatkan sebagai alumni Ilmu Komunikasi FISIP USU, bahkan bahagianya melebihi ketika saya diwisuda (Agustus, 2016). Ya, sangat bahagia sekaligus lega karena akhirnya pundak saya dapat sedikit ringan untuk dibawa. Puluhan teman-teman juga turut hadir untuk mengucapkan selamat sembari memberikan beberapa bingkisan yang saya anggap sebagai hadiah atas kebanggaan mereke terhadap saya, terima kasih teman-temanku.

Oh iya, saya jadi lupa bahwa selain sibuk bekerja dan menuntaskan skripsi saya juga tengah memulai bisnis baru yakni usaha hijab online. Usaha itu saya beri tanggal ulang tahun tepat pada Hari Buruh Nasional, 01 Mei 2016. Alhamdulillah, meski baru beberapa bulan (hingga Desember 2016) saya sudah mendapatkan omset lebih dari lebih dari 10 juta rupiah. Semenjak bekerja, saya memang tak lagi “merengek” untuk meminta uang kepada orang tua di rumah, karena saya akhirnya sadar bahwa mencari uang sangatlah sulit, tapi nggak nolak juga sih kalau ditransfer hagahaga (jangan ditiru). Nah, usaha yang saya geluti sekarang juga merupakan salah satu bentuk usaha saya agar setelah menjadi sarjana saya tak akan meminta uang lagi kepada orang tua.


Sembari menjalankan usaha yang saya namai dengan Zakiyah Berkah, saya juga masih tetap menjadi reporter, saya jadi teringat ucapan dosen saya “menjadi reporter itu haruslah dari panggilan hati, tidak bisa dikerjakan begitu karena harus setulus hati dan berperang melawan godaan.” Saya memang tengah sadar akan itu, dan saya menikmati prosesnya. 

Sembari menunggu momen paling bersejarah di 22 Agustus 2016 yakni wisuda, saya menikmati hari-hari baru saya setelah menjadi seorang sarjana. Pekerjaan dan bisnis tetap saya jalani dengan semaksimal mungkin. Yap, akhirnya hari itu tiba, semalaman menunggu hari penting itu saya justru hanya tidur satu jam karena keasyikan ngobrol sama make up artist yang kebetulan nginap di kosan supaya besoknya gak telat datang. Alhasil waktu di wisudaan saya justru tertidur dengan posisi duduk hahaha, luar biasa kali ya.



Selepas wisuda, saya berniat untuk menyambung studi di salah satu sekolah bisnis di Jakarta, ketika itu persiapan hampir matang, tapi sayang larangan pergi dari Babah membuat saya kecewa dan sedih tak berkesudahan. Tidak tahu alasan pasti atas larangan itu tetapi yang pasti saya tahu bahwa Babah belum bisa jauh dari anaknya yang cantik ini *Eaaak.

Alhasil karena tidak diizinkan merantau, saya memilih untuk liburan ke Ibu kota, untungnya dikasi. Perjalanan itu saya lewati dengan kakak saya, Afni. Banyak hal yang saya pelajari setelah 10 hari di Ibu Kota, mulai dari tutur bahasanya, budaya, lingkungan dan lainnya, dan dari semua itu membuat saya ingin sekali merasakan menjadi anak rantau di kota ini meskipun saya tau itu hanya bisa menjadi angan-angan semata.
Niatnya liburan ke Jakarta tapi malah diajak sepupu ke Bandung

Oh iya, sebelum pergi ke Jakarta, saya telah memutuskan untuk resign dari tempat saya bekerja. Jadi sekarang ceritanya saya itu ya pengangguran gitu hahaha, gapapa pengangguran asal ada aja uang yang masuk ke rekening ahaaaay. Akhirnya saya memilih fokus untuk membangun bisnis Zakiyah Berkah karena rasanya emang nyaman aja gitu ngejalaninya apalagi kalau tiap hari tu banyak yang transfer eaaaak.





Sampailah di penghujung tahun, november 2016 saya mendapat tawaran untuk menjadi enumerator pada sebuah survey kesehatan yang kebetulan surveynya itu dilakukan di daerah asal saya, Asahan. Tanpa berpikir panjang saya langsung ikutan, hitung-hitung sebagai abdi pada daerah sendiri.

Tim Survey Asahan



Tapi sayang sekaligus sedih, kontrak yang harusnya berjalan selama 40 hari tidak bisa saya penuhi dikarenakan baru hari ke 7 saya sudah tumbang. Yap, bukan karena saya ga bisa tapi emang kondisi tubuh yang minta ampun, saya sakit. Kebetulan bulan itu saya ulang tahun, angka kembar tahun ini menjadi ulang tahun menyedihkan selama saya hidup karena di hari yang berbahagia itu saya justru sedih, saya hanya berdoa semoga Tuhan bisa memberikan saya kesehatan secepat mungkin. Saya bersyukur masih diberi sakit, karena itu tanda sayang Allah sama saya, tapi saya juga sedih karena lebih banyak lagi yang sedih melihat kondisi saya ketika itu, terutama keluarga.




Sudah berobat ke banyak dokter, tapi sarannya tetap sama. Karena saya tidak bisa menjalankan saran tersebut akhirnya sama dan umi berniat untuk pergi ke Penang. Alhamdulillah, dokter disana punya saran lain untuk saya dan hasilnya sudah dua bulan ini saya sehat kembali, sebuah keajaiban. Terima kasih ya Allah.



Yap, itulah review cerita saya di 2016. Semoga bisa menjadi manfaat buat teman-teman yang membaca, terima kasih.





0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲