Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Perempuan Aceh, Sang Redaktur

| Senin, 23 November 2015
Zakiyah Rizki Sihombing

Mulanya, banyak pasang mata memandangku kala sesi wawancara siang itu dimulai. Di hadapanku, perempuan dengan hijab yang menjulur panjang di tubuhnya duduk dengan anggun. 

Namanya Fitriani, atau biasa disapa Fitri, Ia adalah perempuan Aceh yang sangat menyukai sastra dan sedang bergiat di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Al, Muslim-Bireun, Aceh.

Lima menit kemudian, beberapa pasang mata kini tidak berfokus ke arahku lagi, sebab mereka sedang disibukkan dengan tugas yang sama denganku saat ini. Membuatku tidak konsentrasi dan terkadang melirik gelisah. Tepat di sampingku, ada Mas Surya yang sedang berdiri dengan catatan-catatannya pada sesi wawancara kali itu.

Fitri mulai memainkan matanya, pertanda Ia tengah menunggu pertanyaanku selanjutnya. Tak lupa Ia juga tersenyum di sela-sela wawancara seraya tegas menjawab tanyaku. Aku menyentuh kakinya bila jawabannya terlalu lebar agar berhemat waktu.

“Dari SMA dulu aku sudah di bagian redaksi, dan aku suka menulis” ujar Fitri yang kini tengah menjabat sebagai redaktur di LPM Suara Al-Muslim tersebut.

Aku terus memandang matanya yang penuh percaya diri. Mulutnya komat-kamit. Tangannya sibuk menerangkan.

Perempuan Aceh kelahiran tahun 1995 ini tampak lebih tinggi dari banyak perempuan lain yang ada di sepetak ruang tempat kami melangsungkan wawancara. Lampu yang masih menyala menjadi pendukung terlihat jelasnya raut wajah Fitri.

Profesional adalah dirinya, hal itu terbukti dari keteguhannya membimbing junior-junior di LPM-nya. Hal itulah yang membuatnya tetap bertahan hingga sekarang.

Mas Surya mengentikan tanyaku kepada Fitri yang belum terselesaikan pertanda waktu telah habis. Pasangan mata yang tadi lupa menoleh kini berfokus lagi ke arahku dan sembari memberikan tepuk tangan yang aku pun tak tahu artinya apa. Aku dan perempuan Aceh itu menyudahi wawancara dengan senyuman yang bersamaan kami lontarkan seraya menggeser kursi yang tadi kami tempati.



Bukit Tinggi, 10 November 2015

Di sudut kamar yang dipenuhi teriak ajakan sarapan

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲