Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Tentang Seorang Babah

| Rabu, 12 November 2014
      Satu-satunya pria yang membuatku bertahan ketika jatuh dan tak menyerah itu kupanggil "Babah."
      
      
Babah adalah sosok yang paling kukagumi didunia ini, beliau selalu memanjakanku diwaktu kecil, tapi ketika aku meranjak dewasa ia mulai menjaga jarak denganku . Mungkin karena statusnya sebagai seorang ustadz di kampungku. Aku berbicara dengan Babah ketika ada yang penting saja, untuk sekedar becanda itu jarang sekali terjadi diantara aku dan Babah. Babah akan bercanda pada kami semua tetapi tidak secara personal.

      Adik-adikku memanggil pria berparas sejuk itu Ayah. Berbeda dengan aku dan kakak pertamaku, kami memanggilnya Baba terkadang Babah. Aneh ya? aku sendiri juga merasa aneh, kami memiliki Ayah yang sama dengan panggilan yang berbeda. 

      Sejak kecil Ummi mengajarkan kepadaku dan kakakku memanggil pria berparas sejuk itu dengan sebutan Buyah, tetapi karena ketika itu kami celat jadilah sebutan Babah. Panggilan itu terus melekat sampai sekarang, Mengapa adik-adikku memiliki panggilan yang berbeda? kejadian itu berawal dari adikku yang nomor tiga mengatakan begini; 
"Ummi, semua orang punya Ayah tapi kenapa kami cuma punya Babah? Nanda gak mau panggil Babah lagi, Nanda mau manggil Ayah"
Yap, dan itu mengikut hingga adik yang nomor empat dan lima.

      Babah orang yang paling paham akan kebutuhanku, aku ingat dimasa kecil beliau selalu membelikanku majalah BOBO kemudian menyuruhku menjawab pertanyaan yang ada di dalamnya, kalau jawabanku benar aku akan dibelikan majalah BOBO edisi yang akan datang. Dari situ beliau mengajarkanku bagaimana caranya berusaha untuk mendapatkan sesuatu bukan hanya dengan meminta.

      Babah adalah seorang guru bahasa arab sekaligus kepala sekolah di Madrasah Tsanawiyahku, tetapi aku tak pernah mendapatkan pelajaran khusus mengenai bahasa arab di rumah. Beliau membiarkanku belajar dan berusaha sendiri ketika terkadang aku meminta bantunnya menyelesaikan PR bahasa arabku. Babah mengajarkanku arti "kemandirian" padaku, aku terus berusaha menjadi murid yang pintar di kelas ketika beliau mengajar, aku selalu maju ke depan ketika ia menyuruh murid untuk menyelesaikan tugas yang ia berikan. Aku selalu ingin menjadi yang terbaik dimatanya, bukan dimata teman-temanku.
      Ketika aku menduduki bangku Madrasah Aliyah beliau tak sekalipun mengantarkanku ke sekolah, padahal yang aku ingat kakakku pernah diantarkan olehnya. Terkadang aku iri. Meskipun aku bangun kesiangan dan tidak mendapat angkutan menuju sekolah, beliau membiarkanku (rasanya aku ingin menangis saat menulis ini). Disaat itulah aku sadar bahwa dia percaya padaku, dia membiarkanku menaiki sepeda motor menempuh perjalanan yang memakan waktu kuring lebih 40 menit melewati jalan lintas sumatera, yang hal itu tidak pernah sekalipun dilakukan oleh kakakku.

      Babah yang kukenal sebagai sosok yang tegar ternyata meneteskan air mata untuk pertama kalinya di depanku ketika ia harus meninggalkan aku dan saudaraku untuk berangkat ke tanah suci. Itulah air mata pertama yang kulihat menetes dari matanya. Ingin aku menghapusnya tetapi aku tak bisa, ingin aku memeluknya tetapi aku tak sanggup karena disaat itu yang aku mampu hanya menghapus air mata yang terus menetes di pipiku.

      Aku semakin dewasa, sekarang aku duduk dibangku kuliah. Ketika aku mendapati kabar kelulusanku di Universitas Negeri yang aku impikan, aku menyalaminya memohon doa dan restunya untuk mengizinkanku menuntut ilmu disana. "Ba, alhamdulillah Eky lulus di USU" kataku bersemangat ketika itu, saat itu aku melihat kebahagiaan besar yang tergambar dari wajahnya.

      Tatkala aku pergi merantau untuk pertama kalinya ke Medan, Babah tak mengantarkanku. Aku hanya ditemani oleh Umii. Tapi aku tahu beliau pasti akan sangat merindukanku, aku yakin itu. Aku melihat rasa rindu dari matanya ketika aku balik ke kampung untuk menemuinya. 
      Aku memang suka menulis sejak dulu, tetapi aku aktif menulis semenjak tinggal di Medan, aku mulai mengirimkan karya-karya terbaikku ke media massa. Ketika terbit Babah adalah orang pertama yang akan kukabari dengan rasa bangga. Kuketahui belakangan bahwa Babah selalu membeli koran ataupun majalah yang menerbitkan karyaku, aku terharu.


      Ba, sekarang Eky udah besar. Dua hari lagi umur Eky 20 tahun, tetapi Eky masih merasa sebagai anak kecil bagi Babah, Eky selalu merepotkan Babah dengan segala hal yang ingin Eky capai, maafkan Eky ya Bah. Eky sayang Babah..


Bah, selamat hari Babah. Semoga suatu saat Babah bisa baca tulisan sederhana yang Eky tulis malam ini. Ana Uhibbuka Abi..

Rabu malam, 12 November 2014
20.30 WIB.


























0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲